Anak Kampung Bagian 3: Bapak Tidur Tersipu Malu
Repost
Semarang, 11 Januari 2015
Artikel dibuat untuk seleksi lomba menulis “Kenangan Masa Kecil” Komunitas Jendela
Disclaimer:
Artikel mungkin mengandung plagiarisme (ketidaksesuaian pengutipan sebagian/seluruh kata/paragraf) dan kesalahan penggunaan tanda baca/bahasa. Artikel dipublikasikan kembali tanpa melalui editing untuk menunjukkan tingkat perkembangan kemampuan penulis.
Oleh Rahmat Syarifulloh
Hari-hari kami di sekolah berjalan sebagaimana mestinya. Berangkat ke sekolah. Duduk manis mengerjakan tugas yang diberikan Pak Edi. Bermain saat jam istirahat. Jajan di warung dekat sekolah. Tak lupa berbuat jail. Lantas masuk kelas untuk belajar kembali. Dan pulang ke rumah. Begitu keseharian kami. Hari-hari yang paling indah. Hari di mana saya bersama teman-teman selalu riang gembira. Hari tanpa beban memikul beratnya kehidupan. Indah sekali.
Di keseharian kami di sekolah tentu ada banyak hal yang selalu mengenang bagi kami. Tapi ini bukan tentang kenakalan kami. Ini juga bukan tentang prestasi kami. Ini tentang kenakalan Pak Edi. Ternyata bukan hanya murid yang bisa nakal. Tapi bapak dan ibu guru kita juga bisa nakal. Tapi kita harus maklum karena sesempurnanya seseorang di depan kita, di belakang kita orang tersebut juga manusia. Tapi tidak untuk dimaklumi kenakalan Pak Edi yang satu ini. Beliau harus diberi pelajaran.
Ketika itu jam pelajaran pertama, jam 08.00. Seperti biasa saya bersama teman-teman satu kelas sudah duduk manis di bangku menunggu kedatangan Pak Edi. Saat menunggu Pak Edi biasanya kami bercengkrama dengan teman sebangku. Ada juga sibuk menggambar dan mencoret-coret bukunya. Yang jail juga banyak. Ada yang teriak-teriak juga. Pokoknya ramai di dalam kelas. Sesampainya Pak Edi di depan pintu, suasana kelas jadi sunyi senyap. Lantas kami langsung mengeluarkan buku dan alat tulis, siap menerima pelajaran hari itu.
Seperti biasa, Pak Edi selalu menulis di papan tulis dengan huruf latin. Papan tulis dibelahnya menjadi dua bagian yang ditandai dengan garis dari kapur tulis. Lantas ditulisnya papan tulis penuh dengan huruf latin. Jika tulisan di papan tulis dikonversikan ke buku kami, kira-kira dua lembar buku tulis. Karena tulisan Pak Edi latin, maka semua murid juga menulis latin. Tidak ada yang berani menulis selain menggunakan huruf latin. Antara huruf satu dengan huruf yang lain harus selalu terkait. Tidak boleh ada yang putus. Tulisan kami waktu itu mirip benang kusut yang saling tali temali.
Setelah Pak Edi selesai memenuhi papan tulis dengan tulisan yang harus kami salin, tanpa menerangkan atau menjelaskan, lantas beliau mengucapkan, “Disalin dan dikerjakan”. Setelah itu beliau keluar kelas dan menghilang antah berantah tanpa bekas. Misterius memang pak guru yang satu ini. Di perpustakaan jelas beliau tidak berada di situ. Di ruang guru pun tidak ada. Di ruang kepala sekolah jelas tidak ada kehadiran beliau. Di WC mungkin? Mungkin, yang pasti kami tidak berani memastikannya hehe. Begitulah beliau, setiap pelajaran pertama selalu menghilang tanpa jejak sampai jam istirahat tiba. Jika sudah begitu, sebagai murid yang rajin, kami hanya bisa menyalin apa yang ada di papan tulis.
Saat jam istirahat tiba, kami pun bergegas keluar kelas. Bermain bola, bermain loncat karet, bermain kapal-kapalan, bersepeda, bersenda gurau, apapun kami lakukan saat jam istirahat. Setelah bel selesai istirahat berbunyi, kami pun bergegas masuk ruang kelas. Seperti biasa, kami duduk manis menunggu kedatangan Pak Edi. Setelah Pak Edi masuk kelas, suasana kelas pun menjadi senyap tanpa suara. Murid-murid sibuk mengeluarkan buku dan alat tulis, siap menerima pelajaran jam pelajaran kedua. Masih seperti biasa, dibelahnya papan tulis dengan garis di tengah-tengahnya. Lantas papan tulis dipenuhi dengan tulisan latin khas Pak Edi. Tanpa banyak bicara, murid-murid pun menyalin dengan riang gembira.
Tapi di jam pelajaran kedua ini ada yang berbeda teman. Di jam pelajaran kedua ini sering kali Pak Edi membawa koran. Sungguh luar biasa pak guru yang satu ini. Setelah menulis penuh di papan tulis, lantas beliau membaca koran. Super sekali guru kami ini. Tapi ada yang aneh teman. Hapir setengah jam Pak Edi tidak berganti halaman koran. Itu-itu saja. Usut demi usut, ternyata Pak Edi tidur. Jadi korannya hanya sebagai kedok. Supaya dikira para murid bahwa beliau sedang membaca koran. Ini lebih luar biasa teman. Dan perilaku tersebut menjadi kebiasaan Pak Edi di tiap harinya. Bahkan sejak dari dulu kala. Dari para nenek moyang (bapak dan ibu) kami. Nakal!
Melihat kebiasaan jelek Pak Edi tersebut, muncul sebuah inisiatif. Dengan inisiatif tersebut, lantas murid-murid memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas. Tanpa bersuara, satu persatu murid keluar dari kelas. Kemana teman? Pulang. Pulang adalah kesepakatan kami bersama. Dan itu kami lakukan dengan riang gembira. Bahkan, selama perjalan pulang, saya bersama dengan beberapa teman, tak henti-hentinya cengingisan, tertawa terbahak-bahak membayangkan ketika Pak Edi bangun tidur dan sadar bahwa muridnya sudah tidah ada. Haha... haha…
Keesokan harinya, tanpa kami sangka, pagi-pagi sekali Pak Edi sudah berdiri di depan kelas. Ini tak biasa. Benar saja, beliau sudah menunggu kami untuk sebuah hadiah atas kenakalan kami tempo hari. Akhirnya satu kelas diminta membuat lingkaran besar di halaman sekolah. Tangan kanan harus memegang telingan teman yang ada di sebelah kanan. Tangan kiri harus mencubit teman yang ada di sebelah kiri. Sudah, kami dihukum jewer-jeweran dan cubit-cubitan di halaman sekolah. Setelah cukup puas jewer-jeweran dan cubit-cubitan, kami diminta masuk kelas. Pak Edi masih leyeh-leyeh di depan pintu. Kami bergiliran masuk ke dalam kelas. Dan kepala kami juga bergiliran di elus-elus Pak Edi, lantas di jitak dengan cincin batu akik sebesar jempol tangan orang dewasa. Puas rasanya.
Kamu tahu teman kemana Pak Edi menghilang saat jam pelajaran pertama? Berdasarkan kabar burung dan siul-siul angin siang, katanya Pak Edi pulang. Dan kembali lagi saat jam pelajaran kedua dengan membawa koran. Lantas tidur di kelas, yang seolah-olah sedang membaca koran.
Atas apa yang kami lakukan, ini menjadi cerita tersendiri yang sulit saya lupakan. Walau akhirnya, saya dan teman-teman sekelas harus menerima akibatnya. Tapi setidaknya kami sudah memberi sebuah pelajaran kepada Pak Edi atas kebiasaan buruknya. Kami yakin, ketika beliau bangun, pasti beliau tersipu malu ditinggal pergi murid.
Mungkin cerita ini sedikit menyudutkan. Tapi bukan itu yang ingin saya tekankan. Dari cerita masa kecil saya ini ada sebuah pelajaran yang bisa kita ambil. Pelajaran bagaimana seseorang harus mampu menempatkan diri pada konteksnya. Maksudnya, ketika kita melakukan suatu pekerjaan, maka tunjukkan lah totalitas dalam menjalankan pekerjaan tersebut. Selelah-lelahnya kita, kita harus memanfaatkan secara optimal jam istirahat atau hari libur. Jangan memadukan keduanya, bekerja asal-asalan dengan alasan lelah. Apalagi hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Ingat, apapun yang kita kerjakan, kita adalah suri tauladan bagi orang-orang di sekitar kita.