Postingan

Tulisan 'Eplekenyes'

Repost Semarang, 5 September 2015 Kata seorang teman, menilai kecerdasan seseorang itu sangat mudah. Bukan dari nilai akademiknya, namun dari apa yang dia tuangkan dalam sebuah tulisan. Jika apa yang ditulisnya bermutu, maka seseorang tersebut termasuk orang cerdas. Dan sebaliknya, jika apa yang ditulisnya kurang berbobot, bisa jadi orang tersebut kurang cerdas. “Kamu tahu kenapa tulisan yang berbobot bisa menunjukkan seseorang adalah orang cerdas?” Saya menggelengkan kepala, tanda tidak tahu. “Karena tulisan yang berbobot adalah isi dari otak (pemikiran seseorang). Tulisan seringkali berisi pola pemikiran seseorang, jadi dari tulisan tersebut kita bisa mengetahui apa yang ada di dalam pikirannya,” jelas teman tersebut. Dari apa yang dikatakan teman saya tersebut, saya mencoba membuat sebuah tulisan. Oh dahsyat, ternyata tulisan saya sangat-sangat tidak berbobot. Semua yang saya tulis di blog adalah tulisan-tulisan eplekenyes (jauuuh dari bermutu atau lebih tepatnya sangat-sangat tidak...

RINEKSI

Repost Semarang, 18 November 2015 Tulisan dibuat untuk lomba menulis “Guruku Pahlawanku” Kunjungi http://lagaligo.org dan http://lagaligo.org/lomba-menulis Disclaimer : Artikel mungkin mengandung plagiarisme (ketidaksesuaian pengutipan sebagian/seluruh kata/paragraf) dan kesalahan penggunaan tanda baca/bahasa. Artikel dipublikasikan kembali tanpa melalui editing untuk menunjukkan tingkat perkembangan kemampuan penulis. Oleh Rahmat Syarifulloh Kehidupan di awal masuk SMA berjalan sebagaimana mestinya. Seragam baru, sekolah baru, guru baru, mata pelajaran baru, dan tentunya teman baru mengiringi kehidupan bunga-bunga yang mulai bermekaran. Namun ada satu hal yang menghempaskan seluruh kebahagiaan murid baru, yang dikemudiaan hari menjadi bencana diatas bencana, ialah Rineksi, guru matematika. Rineksi, jika dilihat dari cara bersikap, berbicara, bertindak, barang tentu ia didikan Belanda atau setidaknya dari sekolah pribumi yang mengedepankan cara Belanda. Langkah yang mantap, dada yang m...

Sampah dari Para Sampah Gunung

Repost Semarang, 3 Oktober 2015 Bulai Mei 2014 (akhir pekan) saya mendaki gunung Ungaran dengan beberapa teman. Dengan peralatan dan perlengkapan lengkap, kami mulai mendaki menuju puncak Ungaran pada pukul 10.00. Di pos Mawar dan sepanjang jalan, terlihat ada beberapa kelompok lainnya yang juga menuju puncak Ungaran, jumlahnya bisa dihitung. Diperjalanan menuju puncak, kami melalui medan yang beragam, ada yang terjal dan ada juga yang landai. Untuk sampai puncak tertinggi Ungaran, setidaknya kami memerlukan waktu lima jam. Sesampainya dipuncak, perjuangan kami masih belum usai karena kami harus merasakan dinginnya hembusan angin. Namun, ketika matahari mulai menampakkan diri, terbayar sudah perjuangan kami. Luar biasa Indahnya! Puas menikmati indanya ciptaan Tuhan, kami bersiap untuk turun menuju pos Mawar. Tenda yang sudah berdiri kami robohkan untuk kami masukkan kembali ke wadahnya. Begitupula dengan sleeping bag, peralatan masak, matras, dan peralatan lainnya kami bereskan. Tidak ...

Memulai itu Sulit

Repost Semarang, 3 Oktober 2015 Ada yang bilang kalau skripsi itu sulit. Ada juga yang bilang kalau skripsi itu mudah. Sepanjang saya mengerjakan skripsi, saya belum merasakan adanya kesulitan yang luar biasa, atau merasa terlalu mudah. Saya merasa ada bagian yang sulit dan ada juga bagian yang mudah. Sesulit-sulitnya skripsi, hanya perlu dipermudah dengan berusaha menyelesaikannya. Dan semudah-mudahnya skripsi, hanya perlu dipersulit supaya hasilnya tampak bagus. Sesulit-sulitnya skripsi atau semudah-mudahnya skripsi tidak akan terlepas dari penyakit akut yang disebut ‘malas memulai’. Bayangkan, skripsi yang sulit akan menjadi semakin sulit jika kita tidak berusaha ‘memulai’ mengerjakan dan ‘memulai’ memecehkannya. Begitupula skripsi yang mudah, akan menjadi skripsi yang sulit jika kita tidak ‘memulai’ menyelesaikannya. Penyakit inilah yang juga menyerang saya saat mengerjakan skripsi. Penyakit malas memulai pada dasarnya terbagi menjadi tiga stadium, yaitu malas memulai ringan, malas...