RINEKSI
Repost
Semarang, 18 November 2015
Tulisan dibuat untuk lomba menulis “Guruku Pahlawanku”
Kunjungi http://lagaligo.org dan http://lagaligo.org/lomba-menulis
Disclaimer:
Artikel mungkin mengandung plagiarisme (ketidaksesuaian pengutipan sebagian/seluruh kata/paragraf) dan kesalahan penggunaan tanda baca/bahasa. Artikel dipublikasikan kembali tanpa melalui editing untuk menunjukkan tingkat perkembangan kemampuan penulis.
Oleh Rahmat Syarifulloh
Kehidupan di awal masuk SMA berjalan sebagaimana mestinya. Seragam baru, sekolah baru, guru baru, mata pelajaran baru, dan tentunya teman baru mengiringi kehidupan bunga-bunga yang mulai bermekaran. Namun ada satu hal yang menghempaskan seluruh kebahagiaan murid baru, yang dikemudiaan hari menjadi bencana diatas bencana, ialah Rineksi, guru matematika.
Rineksi, jika dilihat dari cara bersikap, berbicara, bertindak, barang tentu ia didikan Belanda atau setidaknya dari sekolah pribumi yang mengedepankan cara Belanda. Langkah yang mantap, dada yang membusung, tatapan tiada dua, dan suara lantang menjadi pembeda dirinya dengan yang lain. Lebih bahkan! Percaya diri berlebih dan tanpa rasa takut menyelimuti sikap Rineksi. Keriput di muka menjadi bukti keteguhan jiwanya.
Rineksi menjadi momok bagi setiap orang. Entah, saat pelajaran matematika ataupun diluar kegiatan belajar mengajar. Jangankan murid, guru pun begitu, bahkan kepala sekolah. Setiap berhadapan dengan Rineksi, serasa sembah puja, harus bermuka ramah, senyum, dan bersuara sembah. Jika tidak, dibabat semua badan manusia beserta harga dirinya.
Kata warga sekolah, ruang matematika, ruang Rineksi, adalah neraka. Masuk ke dalam ruang, artinya sudah siap membunuh diri dan hati. Sikap duduk, pandangan, pembicaraan, perhatian, harus sesuai dengan kehendaknya. Seluruh jiwa raga harus dikerahkan padanya. Satu orang melanggar, semua dilemparnya keluar lewat jendela. Rineksi adalah sebuah kemutlakan, tiada tanding dan tiada duannya. Jadilah setiap orang yang berkehendak memiliki kepentingan dengan Rineksi, wajib hukumnya bermuka dua. Ramah dihadapannya, muak dibelakangnya.
Setidaknya itulah yang kami, saya dan teman-teman SMAN 41 Jakarta, rasakan sampai lulus. Rineksi, guru matematika, seorang penjagal bagi seluruh warga sekolah.
~~0~~
Jauh setelah saya lulus atau saat saya di semester enam perkuliahan, saya baru sadar, apa yang dilakukan Ibu Rineksi jauh dari tindak penindasan, bahkan sebaliknya. Sebuah tindakan yang tidak lagi mendekte, tapi sebuah keseriusan yang amat sangat melalui penggemblengan mental dan kedisiplinan. Tindakan yang ditujukan untuk membentuk kepribadian setiap siswanya. Tindakan yang tercurah dari rasa kasih sayang, yang tidak beliau komunikasikan maksud dan tujuannya lewat kata, tapi lewat sebuah tindakan.
Nampaknya Ibu Rineksi tahu betul bahwa anak didiknya selama ini hanya dibentuk dari brain memory, tapi tidak dengan muscle memory. Melalui tindakan keras penuh kedisiplinan beliau berusaha menyeimbangkan keduannya. Selama ini sekolahan hanya fokus pada perkembangan brain memory, yang mengedepankan pengaturan pengetahuan yang diterima siswa. Sedangkan muscle memory, berupa latihan lewat sebuah kedisiplinan untuk merealisasikan gagasan, ditinggalkan. Dengan menyeimbangkan keduanya, beliau bermaksud membentuk manusia yang berpengetahuan namun gesit dan mampu dalam bertindak.
Beliau, lewat kekerasan sikapnya, juga berusaha memberi sesuatu yang lebih dibandingkan pendidik lainnya, tidak hanya sebatas penciptaan tangible (aset berwujud), tetapi lebih jauh, penciptaan intangible (aset nirwujud). Bagi beliau, nilai sekolah (tangible) bukan segalanya. Tata nilai, keterampilan, keahlian, budaya disiplin, integritas, kreditabilitas, menjadi intangible yang tidak kalah penting untuk dibentuk. Keterpaduan keduanya akan menjadi sumber keunggulan anak didiknya yang bersifat riil dan berkesinambungan.
Sampai detik ini, Ibu Rineksi, guru matematika, adalah seorang value creator. Tindakan dan sikapnya yang keras sulit diterka bahwa semua dilakukan untuk membentuk manusia luar biasa, yang semuanya tidak disebutkan maksud dan tujuannya lewat kata, tapi lewat tindakan. Beliaulah pahlawanku.