Sampah dari Para Sampah Gunung
Repost
Semarang, 3 Oktober 2015
Bulai Mei 2014 (akhir pekan) saya mendaki gunung Ungaran dengan beberapa teman. Dengan peralatan dan perlengkapan lengkap, kami mulai mendaki menuju puncak Ungaran pada pukul 10.00. Di pos Mawar dan sepanjang jalan, terlihat ada beberapa kelompok lainnya yang juga menuju puncak Ungaran, jumlahnya bisa dihitung. Diperjalanan menuju puncak, kami melalui medan yang beragam, ada yang terjal dan ada juga yang landai. Untuk sampai puncak tertinggi Ungaran, setidaknya kami memerlukan waktu lima jam. Sesampainya dipuncak, perjuangan kami masih belum usai karena kami harus merasakan dinginnya hembusan angin. Namun, ketika matahari mulai menampakkan diri, terbayar sudah perjuangan kami. Luar biasa Indahnya!
Puas menikmati indanya ciptaan Tuhan, kami bersiap untuk turun menuju pos Mawar. Tenda yang sudah berdiri kami robohkan untuk kami masukkan kembali ke wadahnya. Begitupula dengan sleeping bag, peralatan masak, matras, dan peralatan lainnya kami bereskan. Tidak lupa kami memunguti beberapa sampah kami. Selain berkemas, sarapan pun menjadi kebutuhan yang perlu disiapkan untuk mengisi energi kami. Setelah semuanya beres dan tidak ada yang tertinggal, kami pun mulai turun menuju pos Mawar. Dari puncak hingga pos Mawar setidaknya kami membutuhkan waktu sekitar empat jam. Alhamdulillah kami kembali dengan sehat tanpa kekurangan suatu apapun.
Setahun kemudian, Mei 2015, saya mendaki gunung Ungaran dengan teman-teman yang berbeda. Perjalanan menuju puncak ungaran kami mulai pada pukul 01.00. Terlihat di pos Mawar banyak berdiri tenda. Sepanjang jalan kami juga bertemu dengan banyak kelompok pendaki. Begitupula di ladang teh, banyak sekali tenda yang berdiri. Kali ini perjalanan menuju puncak harus kami tempuh dengan waktu tujuh jam karena memang sangat padat. Tidak sekali duakali kami mengalah untuk mempersilahkan kelompok pendaki lain untuk naik terlebih dahulu. Setelah tujuh jam mendaki, akhirnya kami sampai di puncak. Namun sayang, pendakian kali ini kurang mengesankan. Bayangkan, puncak Ungaran tidak berbeda dengan pasar malam. Menggelikan!
Jika saya bandingkan, Mei 2014 dan Mei 2015 berbeda jauh dari segi volume pendaki. Tahun 2014, tenda yang berdiri dan kelompok pendaki bisa dihitung. Sedangkan 2015, puncak Ungaran penuh dengan ratusan orang, mirip seperti pasar malam. Tahun 2014 yang puncak Ungaran masih banyak terdapat semak-semak, di tahun 2015 semak-semak tersebut beralih fungsi menjadi tempat berdirinya tenda-tenda. Keadaanya seperti ini bisa saya terka sebagai akibat boomingnya foto selfie di puncak gunung dengan selembar kertas berisi berbagai kalimat. Itulah kenyataan yang saya hadapi ketika saya sampai puncak Ungaran di tahun 2015.
Melihat pemandangan penuh polusi manusia selfie, saya memilih mendirikan tenda dan beristirahat mengumpulkan tenaga untuk bersiap-siap turun dari puncak. Setelah lebih dari dua jam beristirahat, kami berencana turun dari puncak sembari membereskan peralatan dan perlengkapan. Terlihat hanya beberapa kelompok pendaki yang masih berada di puncak. Namun ada yang kami sayangkan, berkurangnya kelompok pendaki tidak mengurai sampah yang ada di puncak Ungaran, bahkan sampah bertambah. Kami sangat menyayangkan banyaknya sampah di puncak Ungaran. Banyak orang berbondong-bondong mendaki gunung Ungaran namun tidak diimbangi dengan kepedulian melestarikan alam. Katanya pecinta alam, faktanya perusak alam. Ketika kami merenungi hal tersebut, salah satu teman kami berkata, “Inilah sampah dari para sampah gunung”.
Melihat banyaknya sampah, kami berusaha memunguti dan membawanya ke pos semampunya. Alhamdulillah, ada beberapa orang dari kelompok pendaki yang masih memiliki kepedulian. Namun, sebanyak apapun sampah yang kami bawa, masih banyak sampah yang tertinggal. Kami berharap siapapun yang pendaki, tolong bawa kembali sampah-sampah tersebut. Jangan sampai kita bersemangat mencari momen selfie di atas gunung namun mengesampingkan kelestarian alam. Mari jaga alam kita!