Tulisan 'Eplekenyes'
Repost
Semarang, 5 September 2015
Kata seorang teman, menilai kecerdasan seseorang itu sangat mudah. Bukan dari nilai akademiknya, namun dari apa yang dia tuangkan dalam sebuah tulisan. Jika apa yang ditulisnya bermutu, maka seseorang tersebut termasuk orang cerdas. Dan sebaliknya, jika apa yang ditulisnya kurang berbobot, bisa jadi orang tersebut kurang cerdas.
“Kamu tahu kenapa tulisan yang berbobot bisa menunjukkan seseorang adalah orang cerdas?” Saya menggelengkan kepala, tanda tidak tahu. “Karena tulisan yang berbobot adalah isi dari otak (pemikiran seseorang). Tulisan seringkali berisi pola pemikiran seseorang, jadi dari tulisan tersebut kita bisa mengetahui apa yang ada di dalam pikirannya,” jelas teman tersebut.
Dari apa yang dikatakan teman saya tersebut, saya mencoba membuat sebuah tulisan. Oh dahsyat, ternyata tulisan saya sangat-sangat tidak berbobot. Semua yang saya tulis di blog adalah tulisan-tulisan eplekenyes (jauuuh dari bermutu atau lebih tepatnya sangat-sangat tidak jelas). Hoho ternyata ini yang menyebabkan pengunjung blog saya tidak pernah bertambah. Amsyooong, berarti saya bukan termasuk orang cerdas, mendekati pun tidak. Oh, no!
Keesokan harinya saya bertanya kepada teman tersebut. “Kemarin saya belajar menulis. Dari apa yang saya tulis, nampaknya saya jauh dari apa yang disebut ‘orang cerdas’. Lantas apa yang perlu saya lakukan supaya bisa menjadi orang cerdas?”
Teman saya tersebut terkekeh mendengar cerita saya. “Jawabannya simpel, hanya perlu banyak-banyak membaca buku dan banyak-banyak belajar menulis (menuangkan pokok pikiran, ide, gagasan, atau cerita melalui sebuah tulisan),” jawab teman saya tersebut.
Jika dipikir-pikir, ada benarnya perkataan teman saya tersebut. Simpel sekali untuk menjadi orang cerdas, tinggal banyak-banyak membaca dan banyak-banyak menulis. Yang menjadi pertanyaan, sebarapa banyak dan sebarapa sering saya harus membaca buku dan belajar menulis? Harus buuaaaanyak kah? Pliis, sepertinya saya tidak akan pernah bisa menjadi orang cerdas, pesimis.
“Orang cerdas itu diibaratkan padi yang bernas (berisi). Semakin padi tersebut berisi, akan semakin menunduk. Sama halnya dengan orang cerdas, semakin seseorang cerdas, maka orang tersebut akan merasa bahwa dirinya bukan siapa-siapa dan apa yang didapatkannya adalah pengetahuan sebesar upil,” tegas teman tersebut.
Hoho, sekarang saya paham. Tidak perlu saya menghitung sebarapa banyak buku yang saya baca dan sebarapa sering saya belajar menulis. Toh pada akhirnya, ketika saya mendekati menjadi orang cerdas, saya akan selalu merasa bahwa apa yang saya dapatkan selama ini bukanlah apa-apa. Eem begitu tho.
Atas dasar hal tersebut, saya berkeinginan untuk terus membaca, menyempatkan diri membaca sebaris duabaris dari sebuah buku. Dan tentunya, saya juga harus terus menulis, walaupun apa yang saya tulis tidaklah bermutu. Tapi saya yakin, dengan seiring berjalannya waktu, yang disertai kemauan untuk membaca dan belajar menulis, suatu saat saya bisa menjadi orang yang cerdas. Amin! Maju terus pantang nyebur.