Beda Tidak Selalu Bernilai Plus
Repost
Semarang, 16 Agustus 2014
Haha ada cerita menarik saat yudisium kuliah kemarin. Ada mata kuliah yang saya prediksi mendapatkan minimal nilai AB ternyata malah hanya mendapatkan B. Dan itupun nilainya diambang degradasi BC haha. Saya sempat bingung, kenapa saya hanya mendapatkan nilai B. Padahal sudah saya buat sebagus, seuptodate, sebeda mungkin dengan teman-teman yang lain. Ya, setidaknya bagi saya apa yang saya buat sudah mencakup tiga hal tersebut. Haha tapi dosen berkata lain, saya hanya mendapatkan nilai B. Kecewa. Kecewa luar biasa.
Dari situ saya mulai berpikir, kenapa saya hanya mendapatkan nilai B? Ada apa gerangan? Kontennya kah yang tidak bermutu. Atau apa yang saya buat tidak sesuai dengan perintah dosen. Usut demi usut ada beberapa hal kenapa saya hanya mendapatkan nilai B. Pertama, dosen lebih suka yang bersifat konseptual. No uctual, no update, pokoknya konseptual sama seperti di buku-buku. Kedua, dosen lebih suka keseragaman. Satu membahas konseptual, maka semua harus konseptual. Berbeda, coret hahaha. Dengan kata lain dosen tidak suka perbedaan. Ketiga, kemungkinan konten kurang berbobot. Walaupun menurut saya sudah bagus, update dan berbeda dengan yang lain. Kemungkinan dosen menilai lain, tidak bagus, tidak uptodate dan sama seperti yang lain. Haha dari semua itu saya hanya bisa pasrah dan berusaha lebih baik. Tapi satu yang pasti, tetap berusaha menjadi yang berbeda dengan yang lain. Artinya bukan selalu kontras dengan yang lain, tetapi harus selalu mencoba hal baru dan berpikir dari sudut pandang yang berbeda.
Perhatian: kondisi di atas tidak berlaku pada semua dosen haha