Bulan Ambisius
Repost
Semarang, 21 Desember 2014
Ini bukan cerita tentang seorang aktivis mahasiswa yang memiliki ideologi tingkat dewa. Ini juga bukan cerita tentang mahasiswa dengan IPK 4,01. Ini bukan juga cerita tentang mahasiswa yang penuh prestasi. Tapi ini cerita mahasiswa bangkotan. Mahasiswa yang tidak berideologi. Mahasiswa apatis. Mahasiswa dengan IPK dibawah 3,50. Mahasiswa yang miskin prestasi. Mahasiswa yang sampai hari ini masih hidup karena sebuah mimpi. Mimpi, ini yang membuat saya hidup.
Mungkin ini keputusan yang sulit diterima bagi orangtua saya, ketika saya memutuskan untuk menunda pengajuan proposal skripsi, yang seharusnya bisa saya ajukan di semester tujuh. Bukan hanya orangtua, sanak saudara yang antusias menanyakan perihal wisuda pasti juga kecewa. Sebenarnya saya juga berat mengambil keputusan ini. Tapi inilah keputusan, dibaliknya pasti ada konsekuensi.
Lulus tepat waktu tidak lebih penting dibanding lulus tepat pada waktunya. Artinya, lulus tidak harus tepat delapan semester, atau bahkan kurang. Lulus harus tepat pada waktunya. Tepat ketika apa yang menjadi tujuan sudah tercapai. Lulus dengan IPK 4,01, misalnya. Intinya, kita harus lulus ketika semua apa yang menjadi tujuan sudah tercapai, atau mendekati tercapai semua, atau ketika kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk menggapai tujuan itu. Jika di semester tujuah atau delapan tujuan-tujuan kita sudah tercapai, itulah waktu yang tepat untuk lulus. Jika belum, kejarlah, sebelum terlambat.
Mungkin prinsip lulus tepat pada waktunya yang melandasi saya mengambil keputusan untuk menunda pengajuan proposal skripsi. Atau, mungkin karena ketidakmampuan saya menjadi mahasiswa dengan IPK 4,01, mahasiswa dengan ideologi tingkat dewa, atau mahasiswa dengan segudang prestasi. Sejujurnya, dua kemungkinan ini yang melandasi saya dalam mengambil keputusan.
Tapi yang pasti, saat ini saya tidak sedang berleha-leha, tidak sedang bermain game, tidak sedang liburan, atau kegiatan lainnya yang sifatnya bermalas-malasan. Tapi, di bulan Desember sampai Januari, saya sedang berusaha keras. Saya sebut kedua bulan ini sebagai "bulan ambisius". Bulan di mana saya bekerja keras. Bulan di mana saya mati-matian berusaha. Bulan di mana saya sedang berusaha menggapai mimpi-mimpi saya. Bulan di mana saya harus menjadi mahasiswa dengan ideologi tingkat dewa. Bulan di mana saya harus menjadi mahasiswa yang pro aktif. Bulan di mana saya harus memperkaya prestasi. Dan bulan di mana saya harus berjuang untuk bisa STUDY ABROAD. Amiin. Semoga apa yang menjadi keputusan saya dan apa yang sedang saya perjuang menjadi barokah. Amiin.
#Bermimpilah kawan!!! Karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.