Sebuah Desakan Krisis Lingkungan untuk Generasi Muda

Repost

Semarang, 24 April 2013

Artikel dibuat untuk seleksi Youth Environmental Leader Summit 2013


Disclaimer:

Artikel mungkin mengandung plagiarisme (ketidaksesuaian pengutipan sebagian/seluruh kata/paragraf) dan kesalahan penggunaan tanda baca/bahasa. Artikel dipublikasikan kembali tanpa melalui editing untuk menunjukkan tingkat perkembangan kemampuan penulis.


Oleh Rahmat Syarifulloh – Universitas Negeri Semarang


Kawasan kutub utara (Arktik) diperkirakan menyimpan cadangan sekitar 13 persen cadangan minyak dan sekitar 30 persen cadangan gas bumi yang sejauh ini belum dieksplorasi. Setelah dampak perubahan iklim global mencairkan lapisan es abadi di lautan sekitar kutub, perlombaan diantara perusahaan minyak raksasa untuk mendapat akses ke kawasan yang kaya sumber daya alam itu semakin seru.


Terus naiknya harga minyak bumi, serta keinginan untuk tidak tergantung dari impor minyak, semakin meningkatkan ambisi untuk menemukan sumber energi terbaru. Sebuah ancaman bagi lingkungan yang amat ringkih di kawasan Arktik. Sebuah kecelakaan pengeboran minyak, akan berarti bencana besar bagi lingkungan sekitarnya.


Baru-baru ini dipublikasikan laporan menyangkut penyakit dan cacat bawaan sejak lahir pada beragam ikan dan kepiting di kawasan Teluk Meksiko. Para ilmuwan memperkirakan penyebabnya adalah bahan kimia pengurai lapisan cemaran minyak yang disebar setelah terjadinya kecelakaan. Di Alaska, jejak pencemaran minyak masih dapat ditemukan, lebih dari 20 tahun setelah kecelakaan kapal tanker Exxon Valdez.


Sebuah penelitian yang dilakukan perusahaan asuransi internasional Lloyds, memperingatkan ongkos yang amat tinggi, risiko terhadap lingkungan dan ketidak pastian. Diperlukan pimpinan politik yang kuat, manajemen risiko serta penelitian ilmiah secepatnya, untuk menanggulangi risiko dan tantangan luar biasa itu.


Selain ancaman kerusakan ekosistem kutub utara akibat pencemaran minyak, kondisi seperti ini juga dituding mendorong terjadi pemanasan global. Pasalnya, gunung-gunung es meleleh terjadi akibat adanya pembukaan jalur perkapalan baru untuk mencapai sumber minyak di Arktik. Salah satu perusahaan yang melakukan eksplorasi minyak dan membuka jalur perkapalan baru adalah Shell. Dr. David Vaughan dari Badan Penelitian Antartika Inggris mengakui godaan keuntungan ekonomi terlalu kuat untuk diabaikan. 


Pengeboran minyak lepas pantai yang dilakukan Shell di Arktik akan menambah kerusakan yang perlahan mulai terjadi di kawasan ini. Ketika es di kawasan ini meleleh maka dampak perubahan iklim akan dirasakan oleh penduduk dunia. Asia Tenggara adalah negara yang rentan terhadap perubahan iklim. Selama kurun waktu tiga tahun terakhir ini  berbagai peristiwa telah terjadi seperti Badai Bopha yang melanda Mindanao, Filipina tahun lalu yang  menewaskan 1.901 dan mendatangkan kerugian sebesar US$ 1 juta. Bopha yang disebut rakyat Filipina  ‘Super Badai’ menghantam kawasan yang selama ini tidak pernah dilewatinya. Banjir besar yang melanda Thailand di tahun 2011 membuat 7 juta orang terlantar dan membutuhkan banyak bantuan. Sebuah bentuk dari ketidak seimbangan dan dampak dari perubahan iklim.


Hilangnya es di Kutub Utara berarti lautan akan semakin meluas, demikian juga daratan di sekitar kawasan tersebut yang semula terlapisi es, seperti Greenland, Alaska, Kanada dan Rusia akan menjadi daratan terbuka. Keadaan ini diakibatkan karena sinar matahari yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh lapisan es yang berwarna putih akan lebih banyak diserap oleh daratan dan lautan yang berwarna gelap. Kondisi ini akan menyebabkan adanya albedo effect yaitu perbedaan antara banyaknya sinar yang tepantul dari permukaan dengan banyaknya sinar matahari yang jatuh ke permukaan laut. Faktor itu akan meningkatkan pemanasan bumi yang akibatnya semakin cepat es meleleh.


Selain itu, hilangnya lapisan es akan mengancam kehidupan flora dan fauna yang ada di Arktik. Sebagai gambaran, beruang kutub dan hewan-hewan kutub lainnya seperti cafribou, reindeer dan maskox atau burung-burung yang biasa beremigrasi ke Kutub Utara akan terancam kepunahannya (Medanbisnisdaily,20/12/12).


Persoalan Arktik pada akhirnya bukan hanya persoalan bagi Kanada, Rusia Amerika dan Norwegia tetapi persoalan seluruh negara di dunia. Bagaimanapun dari bukti ilmiah, jelas bahwa Kutub Utara berada dibawah ancaman perubahan iklim yang hebat. Betapa tidak, Arktik sangat vital dalam menjaga bumi tetap dingin karena es di kutub menjadi perisai bumi dalam menangkis 90% sinar matahari yang menimpa bumi, dan mengembalikannya ke angkasa luar. Sebab, jika es di kutub mencair maka 90% panas sinar matahari akan diserap lautan dan semakin meningkatkan pemanasan global. Jika mengikuti model yang sudah dirancang para ilmuwan, maka es abadi akan meleleh sepenuhnya dalam waktu 40 tahun. Apakah manusia harus menunggu 40 tahun lagi untuk menyadari dampak perubahan iklim bagi kehidupan di bumi? 


Arktik bukan saja persoalan bagi individu atau kelompok, petinggi negara atau beberapa petinggi negara, bukan juga persoalan negara atau beberapa negara. Tapi, Arktik merupakan masalah bersama bagi seluruh penduduk dunia. Antisipasi atas kerusakan Arktik harus dilakukan secara menyeluruh pada seluruh elemen masyarakat. Karena efek perubahan iklim akibat mencairnya es di Arktik telah dirasakan oleh warga dunia. Dan ini telah menjadi tema global yang terus aktual untuk dapat diselesaikan segera. 


Secara khusus, untuk mengatasi krisis lingkungan di Arktik yang disebabkan eksploitasi dan pembukaan jalur kapal baru oleh Shell perlu adanya ide kreatif yang sederhana tetapi memiliki kontribusi besar dalam meminimalisir kerusakan ekosistem di Arktik. Cara-cara kreatif mungkin akan lebih mengena dalam sebuah gerakan untuk melawan maupun memprotes sebuah kebijakan yang merugikan masyarakat luas, apalagi jika gerakan tersebut bisa membuat keadaan menjadi lebih baik. Dibandingkan dengan gerakan-gerakan yang cenderung anarkis dan justru malah merugikan sebagian orang lainnya.


Berawal dari gagasan kreatif tersebut kami, Greenpeace Youth seluruh Indonesia (Volunteer Grenpeace Indonesia), saat ini sedang menyerukan agar semua mata tertuju ke Arktik, menjadikan krisis di Arktik sebagai perhatian kita bersama. Karena apa yang terjadi di Arktik tidak berhenti di Arktik saja. Dari tempat kita berada, dimanapun kita berada, ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Arktik. Melalui sebuah gerakan yang dinamakan “I Love Arctic”, kami mengajak seluruh komponen masyarakat Indonesia dan dunia untuk membuat petisi online. Sebuah petisi yang nantinya akan ditujukan kepada petinggi PBB dan petinggi negara di seluruh dunia supaya memberikan tekanan pada Shell untuk segera menghentikan eksploitasi minyak di Arktik.


Petisi online tersebut berupa kumpulan foto dari masyarakat dunia dengan membawa buble yang bertuliskan “I Love Arctic”. Selain buble, kami juga membuat petisi online berupa foto human banner dengan membentuk kata “I Love Arctic”. Kampanye seperti ini akan di lakukan hingga tanggal 19 April 2013. Dan serentak akan di upload pada tanggal 20 April 2013 ke website Save the Arctive (www.savethearctic.org). Dalam hal ini tidak hanya Indonesia yang terlibat, tetapi seluruh negara di belahan bumi secara serentak akan mengupload foto buble dan human banner pada tanggal 20 April 2013 sebagai bentuk penolakan warga dunia atas eksploitasi minyak di Arktik.


Aksi-aksi seperti ini sangat diperlukan untuk kedepannya. Tidak saja karena aksinya sederhana dan kreatif, tetapi dengan aksi yang sederhana tersebut dapat memberikan dampak yang luar biasa dalam mempengaruhi kebijakan petinggi negara dan keselamatan umat manusia. Selain itu, perlu pula ada regulasi yang mengatur tentang eksploitasi kawasan Arktik, mengingat pentingnya kawasan Arktik sebagai stabilisator iklim dunia dan dampak yang diakibatkan jika terjadi kecelakan dalam pengeboran minyak.


Perlu diingat. Permasalahan perubahan iklim tidak saja dilihat dari mencairnya es di kutub utara. Tetapi permasalah perubahan iklim juga disebabkan oleh berbagai faktor. Sudah tentu peran generasi muda dalam mitigasi dan adaptasi bencana sangat diperlukan. Setiap generasi muda perlu dibawa pada aktualisasi diri tidak saja pada permasalahan Arktik atau perubahan iklim tetapi juga pada berbagai permasalahan lingkungan hidup lainnya. Perlu pula adanya kesadaran seluruh generasi muda akan urgensitas dalam menjaga kestabilan lingkungan. Dengan adanya aktualisasi diri dan kesadaran akan urgensitas kestabilan lingkungan diharapkan akan semakin banyak aksi-aksi positif dari generasi muda dalam menjaga lingkungan serta terwujudnya ketahanan lingkungan.


Untuk mengaktualisasi diri dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kestabilan lingkungan dapat dilakukan melalui empat tahap. Tahap pertama, generasi muda perlu dibawa ke tingkat pengenalan berbagai masalah lingkungan hidup. Tahap ini merupakan tahap yang paling penting, karena pada tahap ini generasi muda dikenalkan pada berbagai permasalahan lingkungan global. Tahap kedua, generasi muda perlu dibangkitkan kesadaran lingkungan hidupnya dengan menghadapkan generasi muda pada urgensitas masalah lingkungan hidup di lapangan. Pada tahap ini diharapkan generasi muda sadar akan urgensitas permasalahan lingkungan hidup dan dampaknya bagi penduduk dunia. Tahap ketiga, dengan membawa generasi muda langsung ke dalam pemecahan masalah lingkungan hidup. Setelah generasi muda mengetahui berbagai permasalah lingkungan secara global dan dampaknya bagi umat manusia, maka dari situ akan timbul kesadaran untuk mencari berbagai alternatif pemecahan masalah lingkungan hidup. Tahap keempat, meningkatkan peranan generasi muda sebagai inisiator pemulihan lingkungan hidup. Pada tahap akhir ini, generasi muda akan dibawa pada aksi nyata dalam menyelamatkan dan menjaga kestabilan lingkungan hidup.


Kenapa pemuda perlu mengaktualisasi diri dan menumbuhkan kesadaran diri tentang pentingnya mewujudkan lingkungan yang stabil? Karena populasi pemuda saat ini diperkirakan sekitar 18 persen dari total populasi dunia. Dengan arus globalisasi yang berlangsung cepat di dunia saat ini, pemuda secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh budaya modern yang diperoleh melalui akses ke media massa dan informasi yang tersedia di internet. Hal ini memberikan value added tersendiri jika pemuda dapat mendayagunakan era globalisasi untuk kepentingan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.


Dengan demikian akan tercipta komitmen pemuda dalam mengatasi dampak perubahan iklim dengan semangat kepahlawanan, mengedepankan peran kepemudaan dalam menciptakan komitmen untuk mengatasi dampak perubahan iklim melalui potensi keberagaman budaya, agama, dan kepercayaan yang ada di Indonesia, membekali potensi kelompok pemuda menjadi sumber daya yang memiliki kemampuan dalam menyikapi isu perubahan iklim di tingkat nasional dan global, dan membentuk kreativitas kelompok pemuda dalam menyuarakan perubahan ikim melalui potensi yang dimiliki serta mengembangkannya menjadi sarana komunikasi perubahan iklim yang interaktif.


Sudah dibahas di atas bahwa permasalahan lingkungan bukan saja persoalan bagi individu atau kelompok, petinggi negara atau beberapa petinggi negara, bukan juga persoalan negara atau beberapa negara. Tapi, permasalahan lingkungan merupakan masalah bersama bagi seluruh penduduk dunia. Peran serta seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan dalam menangani krisis lingkungan yang terjadi saat ini. Karena kerusakan lingkungan telah menjadi permasalahan global yang harus segera diselesaikan. Tentu semua itu harus dimulai dari diri seseorang.


Bagaimana bentuk partisipasi generasi muda dalam upaya adaptasi atas krisis lingkungan? Tentu dengan segala keterbatasan yang dimiliki seseorang dapat menjadi penghambat dalam berkontribusi meminimalisir krisis lingkungan. Perlu adanya “knowledge, felling, loving, dan acting”. Dalam konteks penanggulangan krisis lingkungan yang sangat penting adalah menggalang kesadaran bersama untuk merawat dan melestarikan alam serta lingkungan melalui aksi-aksi kecil kecil, sederhana dan menyenangkan. Seperti menerapkan “green lifestyle” pada diri sendiri. Menanam pohon di halaman rumah, membawa tas non plastik sebagai kemasan, membudayakan olahraga bersepeda bahkan menggunakannya sebagai kendaraan menuju kampus atau sekolah serta memberikan contoh terhadap keluarga, saudara atau tetangga tentang pentingnya memelihara lingkungan secara konsisten. Itulah contoh langkah sederhana dan kecil yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Justru dengan langkah sederhana dan kecil seperti ini mampu memberikan kontribusi besar jika diakumulasi gerakannya dari komunitas-komunitas serupa yang melakukan hal yang sama.


Bumi saat ini tengah dilanda krisis. Planet ini butuh pahlawan-pahlawan muda yang berdedikasi tinggi untuk menyelamatkannya dari kelangkaan sumberdaya. Untuk itulah peran pemuda sebagai iron stock harus dioptimalkan sehingga dapat terciptanya alam yang lestari. 


Itulah desakan krisis lingkungan untuk generasi muda yang mengharuskan untuk segera ditangani. Kiranya untuk dapat melaksanakan semua kegiatan dalam mewujudkan ketahanan lingkungan perlu ada tiga hal yang menjadi catatan untuk kita semua, yakni 3D - Dimulai dari yang kecil, Dimulai dari diri sendiri, Dimulai dari sekarang –."Stand Up, Speak Up, and Take Action".


Youth Environmental Leader Summit 2012

“Dimulai dari yang kecil, Dimulai dari diri sendiri, Dimulai dari sekarang “

Referensi

Taufik Gobel, Amril. 2012. Pendekatan Holistik Untuk Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim. http://daengbattala.com/pendekatan-holistik-untuk-adaptasi-dan-mitigasi-perubahan-iklim/. diakses tanggal 15 April 2013.


Quaile, Irene dkk. 2012. Aliansi Eksploitasi Kutub Utara Ancaman Ekosistem Peka. http://www.dw.de/aliansi-eksploitasi-kutub-utara-ancam-ekosistem-peka/a-15907523. diakses tanggal 16 April 2013.


Pedro, Melani. 2013. Arahkan Pandangan Ke Arktik. http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/arahkan-pandangan-ke-arktik/blog/44061/. diakses tanggal 16 April 2013.


Mulaika, Hindun. 2013. Jangan Ditunda Lagi. http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/jangan-ditunda-lagi/blog/44641/. diakses tgl 16 April 2013.


Nurafiati, Rida. 2012. Pahlawan Muda Untuk Bumi yang Lestari. http://kampus.okezone.com/read/2012/11/19/373/719960/pahlawan-muda-untuk-bumi-yang-lestari. diakses tanggal 18 April 2013.