Anak Kampung Bagian 1: Ini Bangku Budi

Repost

Semarang, 11 Januari 2015

Artikel dibuat untuk seleksi lomba menulis “Kenangan Masa Kecil” Komunitas Jendela


Disclaimer:

Artikel mungkin mengandung plagiarisme (ketidaksesuaian pengutipan sebagian/seluruh kata/paragraf) dan kesalahan penggunaan tanda baca/bahasa. Artikel dipublikasikan kembali tanpa melalui editing untuk menunjukkan tingkat perkembangan kemampuan penulis.


Oleh Rahmat Syarifulloh


Kampung saya tak ubahnya seperti kampung-kampung pelosok lainnya. Pohon-pohon masih rindang. Dedaunan berserak tak beraturan. Burung-burung sesautan bernyanyi riang gembira. Angin berhembus semilir mengembuskan panasnya siang. Sawah terhampar luas bak samudera. Siring irigasi mengitari blok-blok lumbung padi. Gugung-gunung menancap kokoh menahan goyang gemulai gerak bumi. Indah sekali.


Indah pula aktivitas warganya. Para orang tua hilir mudik potang-panting mengais rezeki. Anak-anak bolak-balik bermain nan gembira. Teriak nyiyir dari ibu memanggil anaknya sering kali terdengar. Telinga pun jadi sasaran akibat seharian tidak makan, maiiiin terus. Sering anak-anak bau amis bermandikan keringat. Busuk! Setelah pulang, kami pun mandi dan bersiap diri. Lantas jalan kaki berangkat untuk mengaji. Seperti inilah kampung pelosok nan jauh dari pusat kota, kampung para anak petani. 


Tapi ada yang menarik dari kampung yang terpelosok ini. Terutama saat hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas. Hari itulah, hari yang teramat istimewa bagi anak kelas 2 sampai kelas 6 SDN Payungrejo, Lampung Tengah. Hari yang membuat jantung berdebar-debar, lebih dari pada hari pembagian rapot atau hari ketika saya dijewer Pak Edi, guru wali kelas sekaligus guru paling galak.


Biasanya, malam sebelum hari pertama masuk sekolah, saya bersama teman-teman berdoa di langgar supaya hari esok lancar tanpa halangan. Yang biasanya ngaji alib ba ta terus kabur, malam itu tidak begitu, kami khusuk berdoa kepada Allah Yang Mahakuasa supaya apa yang kami inginkan esok hari tercapai. Setelah mengaji, lantas kami lanjutkan dengan membuat obor dari bambu. Bambu yang sudah dipotong dan dibersihkan, kami isi dengan minyak tanah. Lalu kami sumbat dengan kain bekas baju sebagai sumbunya. Persiapan malam itu selesai. Tak lupa juga kami meminta restu kedua orang tua.


Ketika azan subuh datang, kami bergegas mandi lantas menyiapkan diri lengkap dengan seragam putih merah dan bergegas ke langgar. Setelah sholat subuh selesai, berbekal beberapa obor, kami pun siap berangkat ke sekolah. Bayangkan teman, jam 05.30 kami sudah berangkat ke sekolah. Padahal jam 06.30 masih gelap gulita. Bahkan, waktu itu jam masuk sekolah adalah jam 08.00. Luar biasa bukan.


Perjalanan pun kami mulai. Bersama beberapa teman dan obor, kami bergerilya di tengah gelapnya pagi. Perjalanan sekitar 45 menit. Sedangkan jaraknya kurang lebih tujuh kilometer. Lumayan jauh untuk anak-anak imut seperti kami. Gelap dan jauh bukan masalah bagi kami, karena hari itu adalah hari yang penting bagi kami. Hari yang menentukan selama kelas 3 SD. Pokoknya hari itu, hari yang mendebarkan, lebih dari ketika saya dihukum Pak Edi saling cubit dengan beberapa teman di depan kelas.


Sesampainya di halaman sekolah, kami lari pontang-panting mengerahkan segala daya dan upaya untuk lebih dulu masuk ke kelas. Tidak jarang kami harus dorong-dorongan dengan beberapa teman lainnya. Bahkan, kadang sampai gulung-gulungan di tanah karena jatuh. Sesampainya di dalam kelas, “Aku bangku nomor satu,” “aku nomor dua,” “cup, aku bangku nomor tiga,” “yang nomor dua udah tak cup pokoknya.” Iya teman, berdoa khusuk, jantung berdebar-debar, berangkat jam 05.30, gelap-gelapan, semua dilakukan hanya untuk mendapatkan bangku deretan nomor satu, nomor dua dan nomor tiga. Nomor empat dan nomor lima itu hanya untuk mereka-mereka yang malas. 


Bagi kami, deretan bangku itu menunjukkan sebuah kebanggaan. Semakin di depan, semakin bersemangat karena deretan depan yang akan sering ditunjuk dan diperhatikan bapak dan ibu guru. Walaupun sekolah kami reot, bangku-bangku berkaki tiga, atap bocor, papan tulis berlubang, lantai kebanjiran, tapi kami selalu semangat bersekolah karena kami berada di deretan paling depan. Jauhnya perjalanan dan gelapnya pagi buta tidak pernah menyurutkan kemauan kami. Kami berharap, dengan semangat memposisikan diri di deretan bangku terdepan, kami mampu memposisikan diri kami terdepan juga dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Begitupula di masyarakat, kami berharap semangat tersebut memacu kami untuk terus menjadi yang terdepan dalam memecahkan berbagai permasalahan di masyarakat.