Jadi Delegasi Indonesia Youth Forum 2013?

Repost

Semarang, 20 Mei 2014


Jenuh. Rasa-rasanya jenuh gitu-gitu aja.

Kesal. Kesal banget kalau di facebook lihat teman ikut konferensi nasional.

Bingung. Bingung karena sudah mencoba tapi tak lolos konferensi nasional.

Hah, apalah daya.


"Gagal atau sukses itu fleksibel. Bisa kamu pilih, kapan kamu harus gagal dan kapan kamu harus sukses. Artinya, semua tergantung pada doa dan usaha." Haha itu kata seorang teman.


"Percobaan pertama itu wajib gagal. Percobaan kedua masih harus gagal. Percobaan ketiga kamu bisa milih, mau gagal atau sukses."  Itu juga kata seorang teman.


"Ayo, kita habiskan semua kegagalan. Mumpung masih muda." Kata seorang teman juga.


"Orang yang gagal karen mencoba derajadnya lebih tinggi daripada orang yang gagal karena diam saja." Kata saya.


"Pengalaman adalah guru terbaik." Kalau yang ini kata pepatah haha.


Dari kesemua nasihat tersebut, tidak cukup kesuksesan diraih dengan instan. Kalaupun ada orang yang berhasil pada usaha atau percobaan pertama, pasti kesuksesan tersebut dilandasi doa dan usaha. Mungkin juga ada faktor bejo.


Tapi memang, rasanya itu sejuta warna ketika kita gagal. Dongkol luar biasa. Kesal minta ampun. Tapi rasa seperti itu hanya berlaku pada kegagalan pertama atau kedua. Yang ketiga dan seterusnya, kegagalan itu menjadi sebuah kenikmatan. Cobain deh. Pasti ketagihan.


Tidak ada kegagalan yang tidak menghasilkan apa-apa. Setidaknya kita berada pada derajad yang lebih tinggi dari pada orang-orang yang tidak pernah mencoba. Lebih baik gagal karena mencoba daripada gagal tidak berbuat apa-apa.


Kira-kira seperti itu proses yang saya alami ketika untuk pertama kali saya lolos Indonesia Youth Forum 2013. Saya rela-relakan mengelarkan banyak uang untuk ikut Indonesia Youth Forum. Biaya administrasi, biaya transport PP Semarang-Bandung saya tanggung sendiri. Satu rupiah pun tidak ada dana dari kampung. Satu-satunya yang ada dalam pikiran saya waktu itu, saya harus berangkat ke Bandung walaupun harus memotong uang makan dan uang jajan. Ini acara penting. Acara konferensi yang saya ikuti untuk pertama kali. Harus!


Sebenarnya ada alasan lain saya berangkat ke Bandung, selain acara nasional yang pertama kali saya ikuti. Alasannya, karena tidak mudah menjadi bagian dari 200 delegasi dari 1000 pendaftar. Prosesnya juga lumayan panjang. Mulai dari pendaftaran online dengan mengisi form pendaftaran yang isinya tentang motivasi dan proyek sosial, dan juga seleksi wawancara online. Luar biasa. Waktu itu, ada 2 calon delegasi dari kampus saya. Tapi faktor bejo menghampiri saya dan akhirnya hanya saya yang lolos menjadi delegasi atas nama kampus (tidak formal :D).


Untuk sampai menjadi delegasi membutuhkan proses yang panjang, setidaknya bagi saya. Sudah berkali-kali saya mendaftar acara konferensi atau acara nasional kepemudaan. Dan berkali-kali pula saya nyengir karena hasilnya tidak sesuai dengan apa yang saya inginkn, gagal. Ketika menerima email balasan dari panitia, rasanya itu gimana gitu. Lebaynya itu gini, "apa salah saya, cabut nyawa saya." Pada akhirnya putus asa juga. Apa yang salah dengan saya. Apa?


Sekali, dua kali dongkol. Tiga kali masih dongkol. Empat kali makin dongkol. Yang selanjutnya lebih merasakan bahagia. Tidak tahu kenapa, mungkin karena sudah terbiasa gagal. Setelah beberapa kali dongkol karena gagal, gagal gagal dan gagal terus, akhirnya saya merasakan, oh ini lho rasanya kegagalan. Ternyata nikmat juga. Dari yang tadinya takut merasakan gagal, akhirnya ketagihan. Karena dari kegagalan tersebut saya merasa ada banyak hal bisa saya dapatkan. Tapi alhamdulillah, setelah kegagalan mencapai klimaksnya, saya merasakan banyak kesuksesan. Salah satunya ketika saya menjadi salah satu delegasi di Indonesia Youth Forum 2013. Alhamdulillah.


Seperti apa kesuksesan selanjutnya? Tungguin aja...