Anak Kampung Bagian 4: Jalan Lurus Menggapai Mimpi

Repost

Semarang, 11 Januari 2015

Artikel dibuat untuk seleksi lomba menulis “Kenangan Masa Kecil” Komunitas Jendela


Disclaimer:

Artikel mungkin mengandung plagiarisme (ketidaksesuaian pengutipan sebagian/seluruh kata/paragraf) dan kesalahan penggunaan tanda baca/bahasa. Artikel dipublikasikan kembali tanpa melalui editing untuk menunjukkan tingkat perkembangan kemampuan penulis.


Oleh Rahmat Syarifulloh


Lulus dari sekolah dasar (SD), saya melanjutkan ke jenjang berikutnya, sekolah menengah pertama (SMP). Sekolah baru ini tetap masih di kampung yang sama, kampung Payungrejo, Lampung Tengah. Bahkan gedungnya berada di belakang SD saya. Kondisi gedung SMP tidak jauh berbeda dengan gedung SD, serba reot. Gedung dengan perpustakaan seadanya, tanpa laboratorium komputer, tanpa laboratorium praktikum, bangku-bangku tua, papan tulis berlubang dan segala fasilitas yang serba seadanya. 


Untuk sampai ke sekolah baru ini, setidaknya saya harus berjalan kaki kurang lebih tujuh kilometer di tengah teriknya siang hari. Jauh dan panasnya matahari tidak pernah menyurutkan samangat saya, teman. Kamu tahu kenapa? Karena SMP ini adalah sekolah terdekat di daerah kami. Kalaupun ada sekolah lain, jaraknya puluhan kilometer. Jarak yang saya tempuh untuk menuju ke sekolah tergolong lumayan dekat. Teman saya dari beberapa kampung tetangga harus menempuh belasan hingga puluhan kilometer. Bagi kami, letih itu biasa. Tapi kami selalu bangga mengenakan seragam putih biru.


Di minggu pertama, kami mendapat pembekalan. Istilahnya masa orientasi sekolah atau MOS. Dengan riang gembira kami bersalaman saling mengenalkan diri. Tidak lupa berbuat jail. Colek sana colek sini, modus berkenalan dengan beberapa teman wanita yang rupawan. Tapi ada satu yang membuat saya bersemangat. Dan ketika itu menjadi letupan luar biasa. Pada waktu itu, salah satu pembina menggatakan bahwa di sekolah ini belum ada yang pernah meraih ranking satu di kelas dari kelas satu hingga lulus. “Dari kalian, siapa yang akan mencapainya?” tanya pembina tersebut. Sontak seluruh peserta MOS mengangkat tangan dan berkata, “Sayaaa”. Dari situ saya berkeinginan menjadi orang yang meraih ranking satu di kelas dari mulai masuk hingga lulus. 


Mulai hari itu, saya punya keinginan dan kemauan untuk mewujudkan hal tersebut. Sholat berjamaah di langgar tidak pernah surut. Berdoa dan sholat malam apa lagi. Ditambah puasa senin dan kami. Belajar juga, buku saya tumpuk lantas saya baca semua hari itu juga. Pada waktu itu saya punya motto “bukan belajar jika belum membaca seluruh buku catatan dan bukan belajar jika kepala belum pening”. Maklum, ketika itu hanya ada buku catatan dan lembar kerja siswa yang tipis. Membantu orangtua pun begitu, selalu saya iringi doa, “Ya Allah mudahkan setiap pelajaran dan berikan jalan menggapai cita-cita saya”. Begitu setiap gerak saya saat membantu orangtua.


Dari keinginan dan kemauan, dari kerja keras, dan dari doa, alhamdulillah sekali saya tidak meraih ranking satu di kelas. Artinya, selamat lima semester saya selalu menjadi juara di kelas. Dan sekali saya tidak menjadi juara kelas, itupun saya peringkat ketiga. Setiap pembagian semester, dengan melihat hasil yang saya dapatkan, saya senang melihat senyum kedua orangtua saya tersenyum bangga. Melegakan melihat senyum bahagia kedua orangtua.


Di semester akhir kelas tiga, mulai muncul pikiran gundah gulana. Di kanan kiri, anak-anak mulai membicarakan perihal setelah lulus. Ada yang bekerja, ada yang melanjutkan ke SMA, bahkan ada yang sudah siap menikah. Mau kemana gerangan setelah saya lulus? Ketika itu memang saya memiliki sebuah keinginan. Namun, tampaknya itu keinginan yang mustahil. Keinginan yang sangat-sangat sulit diwujudkan. Kondisi ini semakin mengacaukan pikiran ketika ibu bertanya mau kemana setelah lulus. Tidak berani sedikit pun mengungkapkan keinginan saya karena memang itu sesuatu yang mustahil.


Pada waktu itu, kondisi ekonomi keluarga saya memang tergolong pas-pasan bagi keluarga petani. Kondisi ini yang membuat saya tidak berani mengutarakan keinginan saya kepada kedua orangtua. Takut memberatkan keluarga. Yang saya tahu ketika itu hanya meminta kepada Allah. Saya yakin Allah Mahakaya, saya yakin Allah Maha Pengasih, saya yakin Allah Maha Pemurah, dan saya selalu yakin Allah Maha segalanya. Atas dasar kayakinan itu, akhirnya saya putuskan untuk berusah keras supaya saat ujian nasional mendapat hasil yang baik. Selain kerja keras, doa pun tidak pernah absen saya panjatkan. Puasa sunnah, sholat berjamaah, mengaji, dan sholat malam menjadi rutinitas saya.


Sebelum hasil ujian nasional diumumkan dan sebelum saya mengutarakan keinginan saya, Allah telah lebih dulu menjawab segalanya. Ketika itu, ibu menawarkan kepada saya untuk sekolah di Jakarta. Allahuakbar! Allaahuakbar! Allahuakbar! Inilah yang menjadi keinginan saya, melanjutkan SMA di Ibu Kota. Allah memang Mahabesar, terbukti sebelum saya mengungkapkan kepada orangtua saya mengenai apa yang saya cita-citakan, Allah sudah menjawabnya terlebih dahulu. Alhamdulillah.


Singkat cerita. Saat saya duduk di bangku kelas tiga SMA, SMAN 41 Jakarta, saya memiliki mimpi lain. Dan mimpi ini yang terus memacu saya untuk lebih giat belajar dan berdoa. Jalan ceritanya hampir sama. Terus bekerja keras untuk belajar. Terus berdoa dan mengharap ditunjukkan jalan untuk menggapai cita-cita tersebut. Tidak lupa, restu dan doa kedua orangtua pun saya minta. Tidak ada hari tanpa kerja keras dan doa. Tidak ada hari tanpa letupan semangat yang mengobar. 


Alhamdulillah, apa yang saya cita-citakan terkabul. Saya bisa kuliah di perguruan tinggi negeri, di Universitas Negeri Semarang. Ini semua berkat kerja keras, doa, dan restu dari kedua orangtua. Ini semua karena kemurahan Allah Swt. Beberapa mimpi yang sudah saya capai tersebut membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Kondisi ekonomi tidak menjadi sebuah penghalang bagi anak manusia yang hidup dari mimpi. Ingatlah, bahwa Allah Mahakaya, bahwa Allah Maha segalanya, man jadda wajada.


Tampaknya letupan semangat yang ada dalam diri saya tidak pernah surut. Letupan yang menghidupi seorang anak manusia. Membara tiada tara. Membakar habis daging dan tulang belulang. Mengalir deras bersama derasnya darah. Menderu untuk terus menjelajah. Memekik untuk melampaui batas-batas kemampuan. Tumbuh menciptakan benih-benih baru. Dan pada akhirnya, letupan tersebut menghantarkan pada mimpi-mimpi baru. 


Teman, saat ini saya sedang di tahun terakhir perkuliahan. Dan saat ini saya juga sedang berusaha keras untuk menggapai mimpi berikutnya. Mimpi yang dilihat dari segi ekonomi tidak akan pernah mampu mencukupi. Mimpi yang mungkin hampir tidak mungkin bagi anak pelosok. Namun, dengan bukti atas apa yang saya capai, saya yakin mimpi baru ini bukanlah apa-apa. Ingat teman, man jadda wajada. Ini bukan masalah setajam apa kampak yang mampu memotong sebuah pohon. Tapi ini tentang seberapa banyak kampak tumbul diayunkan hingga mampu memotong sebuah pohon. Dari semua itu, maka hari ini saya berusaha keras untuk bisa study abroad di Jepang. Terus lah bermimpi!