Jalan Mendaki atau Menuruni
Repost
Semarang, 23 Mei 2014
Hai kawan, bagaimana kabarmu?
Masih ingat, dulu kita punya sebuah ikrar? Dulu kita juga punya janji. Dengan alunan doa dan semangat menggebu-gebu, kita mengucapkan janji bahwa disuatu hari nanti kita akan pergi jauh, jauuuh sekali. Dari jauhnya tempat tersebut pada saatnya kita akan kembali di tempat kita mengucapkan janji. Kalau diingat-ingat memang menggelikan haha. Tapi hal itulah yang menghantarkan kita sampai hari ini. Aku harap kau tidak lupa.
Baikkah kau di sana kawan? Sudah sejauh apa?
Di sini aku sudah jauh. Cukup jauh dari apa yang kita inginkan. Bahkan mungkin terlalu jauh. Bagaimana dengan dirimu?
Kawan, hidup itu pilihan. Memilih, apakah kita awali dengan mendaki atau menuruni. Sama halnya dengan cita-cita. Kita bisa memilih untuk kerja keras diawal atau nanti diakhir. Pilihan kita itulah yang nantinya akan menentukan hasil. Jalan mana yang kau tempuh?
Ingat kawan, hidup itu pilihan. Memilih untuk mewujudkan dimasa muda atau tidak sama sekali. Ingat lantunan doa yang selalu kita ucapkan dulu. Ingat juga janji kita. Ingat pula tujuan yang menjadi ujung tombak dari doa dan janji kita.
Sayangnya aku tidak lagi melihat hal itu di mata mu. Artinya kau jauh tertinggal dari apa yang ingin kita capai. Aku berdoa tidak sejauh apa yang ku kira. Semoga kau masih punya banyak tenaga untuk “pergi jauh ke sana.”
Ingat kawan sudah tidak ada waktu lagi. Ingat kawan. Dari seorang kawan...