Anak Kampung Bagian 2: Jitak Bapak Botak
Repost
Semarang, 11 Januari 2015
Artikel dibuat untuk seleksi lomba menulis “Kenangan Masa Kecil” Komunitas Jendela
Disclaimer:
Artikel mungkin mengandung plagiarisme (ketidaksesuaian pengutipan sebagian/seluruh kata/paragraf) dan kesalahan penggunaan tanda baca/bahasa. Artikel dipublikasikan kembali tanpa melalui editing untuk menunjukkan tingkat perkembangan kemampuan penulis.
Oleh Rahmat Syarifulloh
Deretan bangku sudah dapat, artinya kegiatan belajar mengajar sudah berjalan sebagai mana mestinya. Hari sudah mulai normal, tidak ada doa khusuk di langgar. Obor hanya dipakai saat pulang dari langgar. Tidak ada aktivitas bergerilya di pagi buta. Tidak ada lari-lari berebut deretan bangku. Berangkat sekolah pun sudah berganti jam 06.30. Di kelas, murid-murid duduk manis dan Pak Edi menerangkan mata pelajaran. Begitulah aktivitas normal saya ketika itu.
Tampaknya ada yang kurang. Bukan anak yang riang gembira jika aktivitasnya hanya begitu-begitu saja. Bukan anak yang cerdas juga jika keseharian di sekolah tidak berbuat onar. Sebagai anak yang ceria sekaligus imut ketika itu, ternyata nakal menjadi hal yang wajib harus ada. Nakal ini menandakan seorang anak benar-benar tumbuh sebagai mana mestinya. Menandakan anak tersebut tumbuh normal tanpa gangguan. Dan dari nakal itulah petualangan baru dimulai.
Ketika itu saya punya seorang teman dengan tubuh gempal, tinggi dan hitam. Jika dibandingin dengan kebo di kampung kami, dia yang paling besar, paling montok, paling subur dan dia yang paling mahal harganya. Bisa dibilang teman kami yang satu ini ketuanya. Hampir setiap kelas takut dengan teman kami ini. Untuk urusan membuat onar, berantem dan jail, dia nomor satu. Namanya Hendri. Untuk petualangan nakal berikutnya, dia juga yang memimpin.
Seselesainya jam olahraga, biasanya kami bermain sepak bola, ada jeda jam untuk istirahat. Biasanya kami tidak langsung ke kelas, kami sering duduk-duduk di bukit belakang sekolah. Duduk menikmati semilir angin sepoi-sepoi sembari memandangi hamparan sawah nan luas. Ada yang berteriak keras supaya suaranya menggema. Ada yang berlomba melempar batu ke sawah. Ada juga yang tiduran di atas rumbut sembari berbincang-bincang.
Ketika lagi asik menikmati aktivitasnya masing-masing, Hendri lantas berbicara, “woi, mandi di belumbang (bendungan irigasi) yok?” Sontak kami bangun dan mengiyakan. Jalanlah kami. Tidak begitu lama, kami pun sampai. Seperti halnya anak-anak pada umumnya, kami mandi di belumbang dengan riang gembira. Semakin dalam belumbang, semakin terpacu untuk menjajakinya. Salto, koprol, menyelam, pukul-pukulan, menjadi polah kami selama berenang di belumbang.
Setelah puas berenang di belumbang, kami pun pulang ke sekolah. Namun ada yang aneh. Banyak murid-murid memperhatikan kedatangan kami. Seolah-olah kami pasukan yang baru pulang dari perang. Ada yang berbisik-bisik. Ada juga yang cengingisan. Ada pula yang acuh tak acuh. Tanpa memperdulikan mereka semua, kami pun tetap berjalan menuju ruang kelas. Berharap, sejenak kami bisa menghilangkan letih dari berenang di belumbang tadi. Tapi apa yang terjadi teman? Pak Edi, bapak guru botak, sudah menunggu di depan pintu kelas.
Usut demi usut, ternyata Pak Edi mendapat laporan dari salah satu warga bahwa ada beberapa siswa yang mandi di belumbang. “Huuu,” terdengar suara riang gembira dari puluhan anak berharap kami dihukum. Bahkan ada yang mengatakan, “Hayoo lho, dihukum”. Melihat Pak Edi petentang-petenteng di depan kelas dan mendengar suara ejekan dari banyak murid, secara pribadi, itu membuat saya gemetaran. Apa mau dikata, sang algojo menanti di depan pintu.
Bagi anak-anak yang nakal atau yang sering tidak bisa mengerjakan tugas, hukumannya adalah saling jewer antar teman. Sering juga kami disuruh saling cubit. Kalau mendapat hukuman seperti itu, biasanya kami pura-pura kesakitan. Pura-pura njewer dan nyubit paling keras. Tapi kalau sedang apes, Pak Edi ikut njewer dan nyubit. Semakin keras Pak Edi njewer dan nyubit, semakin keras pula saya njewer dan nyubit teman saya. Itulah hukuman yang pantas bagi kami.
Tapi ada yang berbeda ketika itu, kami tidak dihukum saling jewer atau saling cubit. Ketika itu, kepala kami hanya dielus-elus. Kamu tahu teman apa yang selanjutnya dilakukan Pak Edi? “Cetaak,” bunyi kepala kami terbentur benda keras. Apakah gerangan? Batu akik teman. Kepala kami dijitak dengan cincin batu akik. Luar biasa, setelah dibelai-belai kepala kami lantas dijitak dengan cincin batu akik. Hahaha Pak guru botak jitak kami dengan cincin batu akik. Rasanya luar biasa.
Nakal itu sebenarnya bentuk petualangan teman. Nakal ini menandakan anak tersebut normal. Tumbuh sebagaimana mestinya. Mereka haus akan petualangan. Makanya, ketika saya berenang di belumbang, saya akan selalu mencoba menjajaki belumbang yang paling dalam. Ketika yang dalam sudah saya taklukkan, saya akan mencari yang lebih dalam. Ketika yang lebih dalam sudah saya renangi, saya akan mencari yang paling dalam. Dan begitu seterusnya. Namun, perilaku saya jangan ditiru. Berenang di belumbang itu sangat berbahaya karena kedalamannya bisa melebihi tinggi orang dewasa. Ini sunggu tidak patut ditiru. Cukup filosofinya saja yang diambil dan dipegang teguh.
Filosofinya seperti ini. Misalnya dalam prestasi. Ketika kita mencapai prestasi tertentu, kita akan terdorong untuk meraih prestasi berikutnya, maka kejarlah. Ketika kita telah mencapai prestasi berikutnya, lagi-lagi kita akan terdorong untuk mencapai prestasi-prestasi lainnya. Tidak ada jalan lain selain mengejarnya. Jika diibaratkan, kita itu seperti padi. Semakin bernas padi, semakin ia menunduk. Sama dengan manusia, ketika kita terisi oleh ilmu pengetahuan, kita akan semakin sadar bahwa masih banyak yang belum kita tahu. Maka secara sendirinya kita merasa bukan siapa-siapa. Jadi, carilah petualangan nakal yang positif.