Pilihannya hanya Dua: Gagal atau Kalah
Repost
Semarang, 24 Agustus 2014
Kuliah di universitas negeri menjadi dambaan setiap calon mahasiswa, termasuk saya. Terlebih-lebih bagi calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Ya, semua karena biaya yang murah dan dengan kualitas pendidikan yang hampir sama dengan universitas swasta, bahkan lebih baik dari universitas swasta.
Tapi pernahkan kita merasa kecewa setelah masuk universitas negeri? Pasti ada. Ada banyak alasan kenapa seseorang merasa kecewa setelah masuk universitas negeri. Ada yang merasa kualitas pendidik kurang, fasilitasnya kurang memadai, universitasnya kurang bergengsi dibanding universitas negeri lainnya atau alasan lainnya. Begitu pula saya, ada kekecewaan setelah saya masuk universitas negeri. Bukan karena fasilitasnya kurang memadai. Bukan karena kualitas pendidikannya kurang berkualitas. Atau, universitas saya saat ini kurang bergengsi dibanding universitas saya lainnya. Bukan, semua bukan karena itu. Kekecewaan saya lebih karena ketakutan saya mencoba hal baru dan mencoba sesuatu yang besar.
Takut melangkah untuk melewati tantangan yang lebih besar. Tidak berani jatuh dari setinggi-tingginya cita-cita. Takut gagal. Dan lebih menikmati nikmatnya kenyamanan. Karena ketakutan saya untuk mencoba hal baru inilah yang saat ini menimbulkan rasa kecewa, atau lebih tepatnya penyesalan.
Kenapa dulu saya tidak berani sama sekali mengetikkan “Universitas Indonesia atau Universitas Gajah Mada atau Universitas Brawijaya atau Universitas Padjajaran atau universitas lainnya” pada saat saya mengisi formulir pendaftaran SNMPTN. Walaupun pada akhirnya saya lulus SNMPTN dan saat ini menempuh program akuntansi di salah satu universitas negeri. Mungkin hanya sekedar keberuntungan. Karena selama menjelang dan sesudah SNMPTN saya tidak yakin bisa lulus SNMPTN.
Sekali lagi,saya menuliskan “UI, UGM, UB, dan Universitas Padjajaran” bukan karena universitas tersebut lebih wow dibanding universitas saya saat ini. Karena masing-masing universitas memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya menuliskan universitas-universitas tersebut lebih pada tingkat persaingannya lebih tinggi, kesempatan untuk masuk lebih kecil dan tentunya tantangannya lebih besar.
Saya teringat kata seorang teman ketika kami bertemu di acara tingkat nasional. Pada suatu pembicaraan beliau berkata “Kesempatan Pertama, Wajib Gagal. Kesempatan Kedua, Sunah Gagal dan Sunah Berhasil. Kesempatan Ketiga, Wajib Berhasil.” Seiringnya waktu, saya membenarkan nasihat teman tersebut. Memang benar, kesempatan pertama itu untuk kegagalan. Syukur-syukur kita berhasil. Kalaupun gagal, perlu ada evaluasi. Pada kesempatan kedua dan ketiga inilah kita harus berusaha untuk tidak gagal.
Pepatah mengatakan “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.” Coba kita berkaca dari kegagalan. Coba kita nikmati kegagalan tersebut. Bukankah kegagalan mengajarkan kita bahwa kita harus terus berusaha? Dari kegagalan, kita diajarkan bagaimana kesuksesan itu dicapai. Dari kegagalan, kita disuruh merasakan sakitnya jatuh dari setinggi-tingginya cita-cita. Dari kegagalan, kita diberi ketabahan dan kekuatan untuk terus mencoba. Dari kegagalan, kita ajarkan untuk menapaki anak tangga kesuksesan.
Jadi, jangan sampai yang saya rasakan dirasakan oleh teman-teman. Lebih baik mencoba dan gagal daripada gagal sebelum mencoba. Nikmati rasa sakit akibat jatuh dari setinggi-tingginya cita-cita dari pada menikmati panorama dari serenda-rendahnya cita-cita.
Pilihannya hanya dua: gagal karena mencoba atau kalah karena tidak mencoba #Semangaaaattttt…….