Refleksi Pluralitas Agama oleh Pemuda sebagai Upaya Meningkatkan Toleransi Lintas Beragama
Repost
Semarang, 18 April 2013
Artikel dibuat untuk seleksi Central Java Student Interfaith Peace Camp 2013
Disclaimer:
Artikel mungkin mengandung plagiarisme (ketidaksesuaian pengutipan sebagian/seluruh kata/paragraf) dan kesalahan penggunaan tanda baca/bahasa. Artikel dipublikasikan kembali tanpa melalui editing untuk menunjukkan tingkat perkembangan kemampuan penulis.
Oleh Rahmat Syarifulloh – Universitas Negeri Semarang
Munculnya kerawanan dan potensi konflik karena adanya perbedaan pemahaman terhadap landasan masing-masing agama atau budaya. Hal ini akan menyebabkan pengikisan nilai-nilai keagamaan dan melemahnya rasa, paham, dan semangat kebangsaan. Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu konflik antar umat beragama baik yang bersifat horizontal maupun vertikal. Bersamaan dengan munculnya sentimen-sentimen suku bangsa, agama, dan ras (pluralitas) telah menantang pemikiran kerukunan itu sendiri, terutama dalam membangun masa depan hubungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan beragama yang lebih baik, terbuka, adil, dan demokratis. Permasalahan yang menyangkut hubungan antar umat beragama di Indonesia belakangan ini memang sangat komplek. Hal ini tidak terlepas dari dari berbagai kepentingan ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Sudah seharusnya pluralitas dipandang sebagai identitas bangsa dan disikapi dengan menjunjung tinggi nilai toleransi. Penanaman nilai toleransi dalam masyarakat akan menumbuhkan saling pengertian antara komunitas agama satu dengan komunitas agama lainnya. Pada akhirnya sikap toleransi tersebut akan membangun kondisi masyarakat Indonesia yang damai dan harmonis. Namun, penggambaran kondisi di atas tidak bisa muncul dengan sendirinya. Kondisi tersebut harus diperjuangkan oleh semua komponen bangsa. Khususnya generasi muda yang selalu identik dengan agent of change. Peran aktif pemuda dalam merefleksikan sikap toleransi lintas Agama ini dapat diwujudkan dengan empat tahap yaitu pengenalan, penyadaran, pemecahan masalah dan pengawasan.
Pada tahap pertama, generasi pemuda dibawa pada tingkat pengenalan pluralitas agama. Tahap ini merupakan tahap yang penting, karena pada tahap ini generasi muda dikenalkan pada keberagaman agama dan pentingnya sikap toleran dalam konteks kehidupan beragama.
Tahap kedua, generasi muda perlu dibangkitkan kesadarannya pada urgensi sikap primordial dalam pluralitas kehidupan beragama. Harapannya generasi muda sadar akan dampak yang ditimbulkan oleh sentimentil antar umat beragama bagi integritas bangsa.
Tahap ketiga, generasi muda dibawa langsung pada pemecahan masalah. Setelah generasi muda sadar makna keberagaman agama dan pentingnya sikap toleran serta urgensi sentimentil agama, diharapkan timbul kesadaran untuk mencari berbagai alternatif pemecahan masalah lintas agama yang tujuan akhirnya terwujudnya kehidupan yang rukun dan harmonis antar umat beragama.
Tahap keempat, meningkatnya peran generasi muda dalam menciptakan sikap toleran dan mengawasi segala potensi terjadinya konflik antar umar beragama. Pada tahap akhir ini, generasi muda akan dibawa pada aksi nyata dalam mewujudkan sikap toleran dan pengawasa potensi terjadinya konflik horisontal. Pada tahap ini generasi muda dituntut menjadi inisiator terwujudnya keharmonisan lintas agama.
Empat refleksi ini setidaknya diharapkan dapat mewujudkan pemahaman tentang pluralitas, yaitu :
Membangun sikap personal terhadap pluralitas itu sendiri.
Kepedulian terhadap ko-eksistensi dari agama-agama yang berbeda.
Menjawab persoalan karakteristik dan limitasi dari dua konsep elementer yang berlaku dalam refleksi pluralitas agama dan pertemuan antar agama, yakni “agama” dan “komunikasi”.
Perhatian akan bahasa dan wacana bersama untuk mewujudkan pluralitas agama yang harmonis dan jauh dari sikap curiga.
Upaya pembaruan dan pengkajian ulang atas pemahaman agama masing-masing yang selama ini terbatas pada batas-batas sempit pengetahuan dan alam kesadaran kita.
Mungkin cara yang saya paparkan di atas terbilang sederhana. Namun, saya yakin. Jika cara tersebut dipraktikan oleh pemuda dan masyarakat tidak mustahil kondisi harmoni dan damai di Indonesia dapat terwujud.
Referensi
Pluralisme dan pluralitas. http://stainsalatiga.ac.id/pluralisme-dan-pluralitas/.(diakses : 12 April 2013; 21:00 wib).
Pluralisme Agama Dalam Pandangan Islam. http://www.muslimdaily.net/artikel/studiislam/pluralisme-agama-dalam-pandangan-islam.html#.UWlspaKmjfh. (diakses : 12 April 2013; 21:25 wib).
Hubungan Lintas Agama: Menghapus Stereotip dengan Komunikasi. http://ariefrosadi.blogspot.com/2012/11/hubungan-lintas-agama-menghapus.html. (diakses : 13 April 2013; 08:45 wib).
Peran Tokoh Pemuda Dalam Memelihara Kerukukan Dan Harmoni Sosial. http://sosbud.kompasiana.com/2011/06/17/peran-tokoh-pemuda-dalam-memelihara-kerukukan-dan-harmoni-sosial-373738.html. (diakses : 13 April 2013; 09:25 wib).
Forum Dialog Generasi Muda Lintas Agama. http://www.kesbanglinmas.jogjaprov.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=70&Itemid=10. (diakses : 14 April 2013 ; 22:00).