Saat Mengemis Dijadikan Profesi

Repost

Semarang, 29 Maret 2014


Rasanya muak tiap memasuki gerbang kampus. Rasanya risih tiap berangkat ke kampus. Rasanya "iih" gemes saat melintasi jalan menuju ruang kuliah.


Apa rasanya ketika setiap hari bertemu dengan orang sehat yang meminta-minta? Muak bukan. Entah apa yang dipikirkan oleh orang tersebut. Duduk dengan tenang di dekat gerbang fakultas sambil memelas mengharapkan recehan dari setiap mahasiswa yang lewat di depannya. Bukan satu tahun yang lalu, bukan satu bulan yang lalu, bukan kemarin lusa, atau bukan kemarin orang tersebut melakukan rutinitasnya. Tapi sudah hampir 3 tahun dilakukannya, ketika itu saya menjadi mahasiswa baru.


Entah memang karena tidak memiliki pekerjaan atau memang tidak berkeinginan untuk bekerja. Saya kira faktor kedua yang paling dominan karena memang menghasilkan receh yang lumayan banyak. Coba kita tengok lagi kejadian ditangkapnya pengemis di Jakarta yang sudah haji dari hasil mengemis. Belum lagi uang yang dipegangnya mencapai 25 juta. Dan lagi kontrakan yang dihuni terbilang lumayan bagi kalangan menengah. Jadi wajar jika pengemis yang mengemis di kampus saya sudah melakoni profesinya hampir selama 3 tahun. Luar biasa.


Kondisi terbalik juga saya temui di kampus. Seorang kakek yang sudah uzur sering saya lihat sedang memunguti sampah plastik. Satu demi satu beliau memungut plastik yang sekirannya bisa diubah menjadi recehan. Setidaknya siang atau sore hari saya melihat beliau. Tidak jarang juga ada mahasiswa yang memberikan sedikit uangnya untuk beliau. Rasanya iba. Disaat beliau sudah renta, beliau masih harus mengais receh dari tempat sampah. Semoga apa yang dilakukan beliau bisa mencukupi kebutuhannya. Dan semoga Allah memberikan rizki kepada beliau. Amiin.


Saat saya menulis tulisan ini, saya baru sadar kalau saya sudah beberapa minggu tidak melihat beliau. Saya teringat kalau beberapa minggu ini ada beberapa orang meninggal. Semoga bukan beliau. Amin. Tapi kalaupun beliau, saya hanya bisa mendoakan, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT. Semoga di Surga beliau tidak lagi memungut sampah lagi. Semoga di sana beliau menjadi orang yang berkecukupan. Ammiiiin.