Sudah Waktunya Bangun dan Mulai Bergerak
Repost
Semarang, 16 Mei 2014
Man Jadda Wa Jadda
"Barang siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasil"
Jadi ingat ketika duduk di bangku SMP haha. Dulu, saya punya cita-cita. Saya ingin rangking 1 dari kelas 1 sampai kelas 3. Hampir tiap hari saya berdoa. Puasa sunah dan solat berjamah menjadi suatu keharusan. Bahkan, ketika saya membantu orangtua, saya selalu melantunkan doa. Tidak berdiri, tidak duduk, tidak jongkok, tidak berbaring, saya lantunkan doa supaya cita-cita saya terwujud. Selain berdoa, saya juga rajin belajar. Saya punya jam khusus untuk belajar, jam 08.00-11.00. Saya tumpuk semua buku mata pelajaran, catatan dan lembar kerja siswa, lalu saya lahap semuanya pada jam belajar tersebut. Maklum, di kampung, jadi semuanya serba terbatas. Perpustakaan kosong tanpa buku, satu-satunya ilmu ya dari catatan dan LKS. Prinsip belajar saya cuma satu, kalau kepala belum cenut-cenut atau mata belum burem artinya belum belajar. Haha jadi belajar itu ya sampai pusing tujuh keliling. Setelah belajar dengan mengedepankan prinsip tersebut saya lanjutnya dengan bersantai ria, nonton TV. Jam 13.00-17.00 saya sekolah. Untuk sampai sekolah saya harus berjalan kaki kira-kira 5 km. Malamnya saya lanjutkan belajar. Begitulah siklus masa-masa SMP.
Masuk kelas 3 SMP saya punya cita-cita baru. Saya ingin melanjutkan SMA di Jakarta. Kebetulan waktu itu ada saudara di Jakarta. Yang menjadi pertanyaan, mampukah orangtua saya membiayai saya sekolah di Jakarta? Hah, yang ada dalam pikiran saya cuma kalimat "tidak mungkin". Rasanya memang tidak mungkin. Tidak mungkin karena saya hanya anak petani dan pengrajin genteng. Keraguan saya menghalangi saya untuk mengungkapkan keinginan saya kepada orangtua. Entahlah, hampir-hampir memang tidak mungkin. Tapi ada satu keyakinan yang terus saya pegang yakni bahwa Allah Maha Kaya, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Saya tidak peduli bagaimana keluarga saya. Saya tidak peduli sekolah saya nanti dibiayai dari mana nantinya. Yang saya yakini hanya berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Terserah apa hasilnya. Yang penting saya berusaha dan meminta kepada Yang Maha Kaya. Yang bisa saya lakukan hanya mengencangkan usaha dan doa. Itu saja. Dan hanya itu saja.
Alhamdulillah, dengan prinsip belajar "kalau kepala belum cenut-cenut maka tidak akan berhenti belajar," saya bisa merasakan nikmatnya rangking 3 satu kali dan sisanya rangking 1. Kabar yang lebih menggembirakan, saya diberi amanat oleh orangtua saya untuk melanjutkan di Jakarta. Sampai pada diberinya amanah tersebut, saya tidak pernah mengatakan keinginan saya. Semua berkat rutinitas doa saya.
Ketika SMA, sesuai cita-cita melanjutkan di Jakarta, saya punya cita-cita yang sama seperti waktu SMP. Saya ingin rangking 1 dari kelas 1 sampai kelas 3 SMA. Sempat minder saat pendaftaran masuk sekolah. Dengan NEM pas-pasan dan dengan kuota 5% untuk siswa luar DKI Jakarta membuat saya ketar-ketir. Rasanya itu sejuta warna haha. Pesimis, sangat pesimis. Tapi alhamdulillah, saya diterima di salah satu SMA negeri di daerah Jakarta Utara. Tapi kepesimisan saya berlanjut, saya takut tidak bisa bersaing. Maklum, dari kampung yang ketika sekolah di SMP hanya mengandalkan catatatan dari guru dan LKS. Sampai suatu waktu saya berdoa seperti ini "Ya Allah, mungkin saya satu-satunya orang bodoh yang ada di SMA ini. Kalau seandainya saya benar-benar bodoh, semoga ada yang lebih bodoh dari saya. Setidaknya dari rangking anak-anak bodoh, saya di urutan ke 2 tidak apa-apa ya Allah." Haha kira-kira seperti itu doa saya. Tapi alhamdulillah, semua diluar perkiraan saya. Saya bisa bersaing dengan teman-teman di sekolahan bahwa bisa dikatakan saya dikenal oleh guru-guru yang artinya saya termasuk murid menengah ke atas. Dari kondisi tersebut, saya tidak mendapat hambatan yang berarti untuk meraih cita-cita saya. Sayangnya ketika itu saya hanya menganggap persaingan hanya ada di sekolahan saya sendiri. Jadi saya kurang maksimal meraih mimpi-mimpi. Semua prestasi hanya terbatas di dalam sekolahan sendiri, prestasi di luar sekolah minim. Hah, menyesal.
Di kelas 3 SMA, saya memiliki cita-cita yang hampir sama dengan cita-cita waktu SMP. Saya ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri di Semarang. Lagi-lagi terbentur biaya. Yang bisa saya lakukan hanya mengencangkan usaha dan doa. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Saya yakin Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Saya yakin Allah mengabulkan permintaan saya, karena itu saya terus berdoa. Untuk masalah biaya, saya yakin rejeki pasti datang karena Allah Maha Kaya. Alhamdulillah, cita-cita saya terkabut. Dan saat ini, saat saya tulis tulisan ini, saya sedang menempuh semester 6. Alhamdulillah.
Di semester 6 ini ada yang berbeda dengan saya yang dulu, ketika di SMP dan SMA. Saya tidak lagi memiliki target untuk menjadi nomor 1. Saya lebih senang menjadi mahasiswa yang pas-pasan tapi saya memiliki kepekaan tingkat tinggi terhadap kehidupan bangsa. Saya bukan aktivis mahasiswa, tidak pernah saya seperti mereka. Saya hanya mengikuti kata hati saya yang tertanam jauh sebelum saya duduk di bangku kuliah. Hati saya berkata "kembalilah ke kampung dan bangun kampungmu." Jadi, saya kuliah bukan untuk menjadi nomor 1, tapi saya hanya mengedepankan kepekaan sosial. Belajar dan belajar untuk terus membangun kepekaan sosial. Hanya itu! (Lari dari kenyataan)
Tapi sebelum saya kembali ke kampung, saya punya cita-cita yang hanya bisa saya raih dengan mengencangkan usaha dan doa. Cita-citanya, kuliah yang lebih jauh lagi. Amin! Untuk itu, saya harus bangun dari tidur dan mulai bergerak.