Berani Beda

Repost

Semarang, 11 Maret 2014


Seorang anak manusia sebagai pembelajar, yang belajar menjadi dirinya sendiri, dengan sendirinya harus menumbuh-kembangkan keberanian untuk menyatakan diri atau meniru orang lain. ia belajar menjadi pemberani (courageous) dalam arti menerima perbedaan sebagai kenyataan yang wajar dan manusiawi, serta pantas disyukuri dan bukan disesali, apalagi ditiadakan.


Ia perlu belajar untuk berani mengatasi kecenderungan diri untuk bersikap reaktif dengan melemparkan tanggung jawab dan suka mencari kambing hitam (excuses). Ia perlu menunaikan setiap pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Ia perlu belajar untuk berani mengakui kesalahan dan kekhilafannya.


Ia perlu belajar untuk berani bertindak sesuai dengan hati nuraninya sendiri. Ia perlu belajar untuk berani menyatakan apa yang diyakininya sebagai benar. Ia perlu belajar untuk tidak melacurkan karakter dan prinsip. Ia perlu belajar untuk berani menerima dirinya (self acceptance), menghargai dirinya (self respect), mempercayai dirinya (self confidence), dan mengarahkan dirinya (self direction) untuk menjadi otentik dan sejati sepenuhnya, seutuh-utuhnya, apa pun risikonya dan konsekuensinya. Ia perlu belajar untuk membuat sebuah perbedaan di lingkungan masyarakat. Ia perlu belajar untuk berani menantang status quo dan kemapanan semmu yang didekap manusia-manusia pengecut dan orang-orang munafik. Ia perlu belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab dan seorang pemberani


Harefa, Andrias. 2000. Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: Kompas (hal 134-134)