Doktrin Ulala ala Badu-Badu
Repost
Semarang, 01 April 2015
Manusia itu punya banyak sifat yang jelek, salah satunya sifat merasa dirinya paling hebat. Ini sifat yang paling sulit dihindarkan. Ketika kita memiliki satu prestasi kecil yang itu tidak dimiliki orang lain, maka kita akan merasa paling hebat. Saya juga sama seperti itu ketika dulu masuk di BEM universitas. Saya selalu merasa hebat dibandingkan dengan teman-teman saya. Soalnya mahasiswa yang masuk di dalam BEM universitas seringkali disamakan dengan aktivis mahasiswa sejati. Mahasiswa yang selalu berideologi tinggi. Mahasiswa tanpa kepentingan, yang kerjanya membela rakyat. Pokoknya mahasiswa yang masuk BEM universitas itu adalah mahasiswa-mahasiswa hebat, lebih hebat dibanding mereka-mereka yang lalu-lalang kuliah kos-kuliah kos.
Saat di kampus, sambil memperhatikan mahasiswa yang lalu-lalang, saya sering berpikir, "Apa tujuan teman-teman tersebut di kampus? Tidakkah mereka memiliki sebuah ideologi? Haruskah mereka mengesampingkan kepentingan rakyat hanya karena kepentingan pribadi? Apa yang mereka cari di kampus? Masihkah lebih penting kuliah dibanding berjuang dengan ideologi kerakyatan? dll".
Maklum saja, ketika awal masuk kuliah saya memang mahasiswa abu-abu tanpa pendirian, yang pada akhirnya termakan arus. Soalnya, bagi mahasiswa baru, BEM universitas atau BEM fakultas adalah organisasi yang menyilaukan. Dibanding lembaga kampus lainnya atau UKM, BEM memang lebih 'wow'. Terlebih lagi dengan adanya doktrin-doktrin ulala ala badu-badu yang mengatakan bahwa mahasiswa yang tergabung dalam BEM adalah mahasiswa berideologi yang selalu mementingkan kepentingan rakyat, yang seringkali dikonotasikan sebagai aktivis mahasiswa sejati. Dengan doktrin ulala ala badu-badu tersebut, tentu mahasiswa abu-abu akan berbondong-bondong masuk BEM, sebuah lembaga kampus yang menyilaukan.
Melekatnya doktrin ulala ala badu-badu ini pada diri saya, tidak jarang saya meremehkan teman-teman yang lain, terutama mereka-mereka yang kerjanya hanya kuliah. Bisa dibilang ini adalah efek dari doktrin yang mengatakan bahwa aktivis itu adalah mereka-mereka yang tidak lagi mementingkan IPK, yang terpenting itu adalah sebuah ideologi. Jadi tidak ada yang lebih penting dibanding mencari dan mempertahankan sebuah ideologi. Hal ini yang seringkali menjadi dasar bagi saya untuk merendahkan teman-teman yang konsen pada perkuliahan.
Pikir demi pikir, ternyata saya salah menerjemahkan ideologi ala badu-badu tersebut. Soalnya tidak sedikit mahasiswa yang masuk BEM tapi IPKnya tetap bagus. Mungkin ini akibat dari bergaul dengan mereka-mereka para aktivis gagal, yang pada akhirnya menyebabkan saya menjadi produk BEM yang gagal juga, "Hualaa, semfuck diri ini". Yang saya pahami, saat ini, menjadi aktivis mahasiswa itu perlu, tapi akademik juga harus tetap jalan. Keduanya wajib berjalan beriringan. Dengan demikian, kita baru bisa dibilang aktivis mahasiswa sejati. #Ane produk gagal :'(
Satu lagi yang tidak kalah penting mengenai sebuah prestasi. Saya sering berpikir bahwa apa yang saya peroleh, sebuah prestasi, menjadikan saya lebih hebat dibandingkan yang lain. Mereka yang belum mencapai apa yang saya capai bisa dibilang tidak lebih hebat dibanding saya. Misalnya saya memperoleh nilai IPK 3,88 saat wisuda, berarti teman-teman yang lain tidak ada yang hebat jika belum melebihi apa yang saya, atau setidaknya mendekati atau menyamai. Atau, contoh lain ketika saya lulus tujuh semester. Maka orang lain tidak lebih hebat dibanding saya jika orang tersebut belum mencapainya. Persepsi seperti ini adalah persepsi yang salah. Benar memang bahwa kita bisa dibilang hebat karena kita ber-IPK 3,88 dan atau lulus tujuh semester. Tapi kita tidak akan terlihat hebat jika melihat tujuan awal seseorang masuk kuliah dan definisi prestasi setiap orang. Ada mahasiswa yang tujuan dari awal masuk kuliah adalah kuliah dengan serius. Dengan demikian definisi prestasi bagi mahasiswa tersebut adalah ketika mahasiswa tersebut mendapatkan ilmu, ber-IPK tinggi, lulus cepat, punya prestasi di bidang penalaran dst. Berbeda dengan mahasiswa yang tujuan awalnya menjadi aktivis mahasiswa. Sudah barangtentu prestasi didefinisikan ketika mahasiswa tersebut masuk lembaga kampus, vokal di publik, menjadi leader, sibuk mementingkan kepentingan rakyak, dst. Jadi, tujuan masing-masing mahasiswa itu berbeda-beda. Tentu hasilnya (prestasi) pun berbeda-beda pula.
Kesimpulannya adalah, saya harus lebih banyak mawas diri. Tidak boleh menganggap bahwa saya lebih hebat dibanding yang lain, karena prestasi antara satu orang dengan orang yang lain pasti berbeda, tergantung tujuan awalnya. #Hehe ane produk gagal