Dua Prinsip Pra-Skripsi yang Menyesatkan

Repost

Semarang, 31 Maret 2015


Satu minggu yang lalu saya kena gamprat dosen pembimbing (dosbing) skripsi. Penyebabnya cuma satu, karena saya telat ngajuin skripsi, "Mas kok baru ngajuin skripsi? Yang lain sudah penelitian, bahkan ada yang sudah ujian, kok kamu malah baru ngajuin? Kamu ini bikin dosbing gak semangat". Dalam hati saya, "Sialan". Sepulang menemui dosbing tersebut, saya merenung sejenak. Apa yang dikatakan dosbing memang benar, karena sebagian besar maba (bukan mahasiswa baru, tapi mahasiswa abadi), ya seperti saya, ngajuin skripsi telat. "Hualaah, semfuck diri ini". Awalnnya saya pikir, skripsi itukan hak masing-masing mahasiswa. Selama mahasiswa tersebut melakukan kewajibannya, membayar administrasi dll, maka mahasiswa punya hak untuk memilih kapan dia akan mulai mengerjakan skripsi. Terserah dong, mau semester delapan, semester sembilan, bahkan semester empat belas juga tidak masalah, selama mahasiswa tersebut sudah menunaikan kewajibannya. Tapi ternyata saya salah. Ada pihak lain yang menentukan kapan kita akan mulai dan kapan kita akan selesai skripsi. #Jadi mikir


Sebenarnya telatnya saya mengajukan skripsi bukan karena saya malas. Tapi ada dua prinsip yang menyebabkan saya telat skripsi. Prinsip pertama, lulus itu bukan masalah tepat waktu, tapi lulus itu harus tepat pada waktunya. Maksudnya, untuk mahasiswa S-1 itukan bisa lulus tujuh atau delapan semester, lulus tujuh atau delapan semester ini dianggap lulus tepat waktu. Tapi kadangkala kita punya tujuan yang berbeda dengan mahasiswa pada umumnya, yang ingin lulus tepat waktu. Nah, karena tujuan yang berbeda tersebut belum tercapai, yang pencapaiannya membutuhkan status sebagai mahasiswa, jadi tidak ada salahnya jika kita menunda kelulusan sampai tujuan tersebut tercapai. Setelah tujuan tercapai, itulah waktunya untuk lulus, diartikan sebagai sebagai waktu yang tepat untuk lulus.


Prinsip kedua, skripsi itu harus 'wow'. Hasrat untuk membuat skripsi yang luar binasa bagus itu pasti selalu ada bagi mahasiswa abal-abal seperti saya. Dianggapnya, skripsi yang dibuat itu harus yang baru sedikit diteliti, harus bisa membuat pembacanya berdecak kagum, harus mampu menggetarkan dunia, atau yang pokoknya lebih dari yang biasa. Nah, di sinilah saya terjebak dalam imajinasi saya. Alih-alih mencari apa yang saya imajinasikan, akhirnya saya malah terbelenggu dalam proses pencarian. Semua penelitian yang sebenarnya bagus, walaupun lumayan banyak yang meneliti, saya hapus dari daftar pencarian skripsi. Inginnya itu mencari skripsi yang baru, yang baru sedikit yang meneliti. Pada akhirnya saya malah terbelenggu dan berlama-lama dalamm proses pencarian.


Sebenarnya kedua prinsip tersebut tidak ada yang salah. Namun, adakalanya saya memang perlu memperhatikan apakah prinsip tersebut memberi manfaat atau menyusahkan orang lain. Kita juga perlu memperhatikan hal-hal (faktor atau pihak) yang pendukung atau menghambat tercapainya prinsip tersebut. Artinya, tidak semua yang kita anggap layak untuk dilakukan memiliki nilai yang sama di mata orang lain.


Lama saya renungkan prinsip-prinsip tersebut. Adakalnya kedua prinsip tersebut benar, tapi di sisi lain juga salah. Misalnya prinsip pertama, benarkan bahwa kita itu memang harus memiliki tujuan yang harus diwujudkan. Selama tujuan tersebut belum tercapai, tidak ada salahnya untuk terus berusaha. Tapi di sisi lain, bukankah kita bisa mencapainya di waktu yang lain. Pasti ada kesempatan mewujudkan tujuan kita. Sedangkan untuk prinsip yang kedua, saya kira proses pencarian skripsi yang wow itu adalah hal yang alamiah. Manusia itu pasti pasti punya naluri berbuat lebih. Buktinya bukan hanya saya yang berpikir bahwa saya harus lulus dengan penelitian yang luar biasa, ternyata teman saya pun berpikir hal yang sama. Tapi saya dan teman saya tersebut lupa beberapa hal. Pertama, lupa bahwa kami pemula. Kami tidak punya pengalaman melakukan penilitian. Kalaupun kami menemukan penelitian yang luar biasa, belum tentu kami bisa menyelesaikannya, bisa jadi malah mempersulit diri sendiri. Kedua, skripsi itu akan berakhir di rak berdebu perpustakaan fakultas. Hal seperti ini sering dijumpai. Beratus-ratus skripsi mahasiswa hanya berakhir di rak-rak buku perpustakaan. Bahkan ada yang hanya ditumpuk, tanda tidak berharga. Tentu hal ini akan berbeda cerita jika kami mampu menuangkan kata-kata, merubah skripsi menjadi jurnal yang terakreditasi. Tapi tampaknya itu suatu kemustahilan mengingat kemampuan menulis kami yang ala kadarnya. Haha baru sadar ternyata kemampuan saya serba terbatas.


Dari semua itu saya memperoleh jawaban bahwa tidak ada yang salah dengan sebuah prinsip atau sebuah tujuan. Pada dasarnya manusia memang memerlukan keduanya. Tapi alangkah baiknya jika kedua hal tersebut di tempatkan pada tempat yang layak, sehingga tidak memberikan dampak negatif bagi orang lain. Jadi, tetap memegang prinsip dan mengejar tujuan. Namun ingat, menempatkan keduanya pada situasi dan kondisi yang tepat juga penting.