Kuliah Gratis dengan Bidikmisi
Repost
Semarang, 2 April 2015
Bisa merasakan bangku kuliah bagi sebagian anak tentu menjadi salah satu hal yang luar biasa dalam hidupnya. Terutama bagi mereka, seperti saya, yang notabene berasal dari keluarga kurang mampu. Beratnya beban yang ditanggung keluarga biasanya menjadi pengikis keinginan melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Jangankan mencicipi proses perkuliahan, membayangkan diterima di perguruan tinggi saja serasa mustahil. Seolah-olah, kesulitan ekonomi keluarga ini menjadi penentu akhir dari segalanya. Pada akhirnya banyak yang lebih memilih membanting tulang daripada menghayal sesuatu yang sepertinya memang sulit dicapai.
Sulitnya ekonomi keluarga bukan berarti menjadi sesuatu yang harus terus diratapi, sampai-sampai menghapus mimpi untuk melenggang lebih tinggi. Memang adakalanya perlu meratapi beratnya beban yang dipikul kedua orangtua, tapi bukan berarti mumupuskan mimpi-mimpi. Saya yakin ada banyak jalan yang bisa kita tapaki untuk sampai pada tujuan kita. Salah satu jalan yang bisa kita lalui adalah bidikmisi.
Bidikmisi sendiri merupakan beasiswa yang diberikan kepada mereka yang berprestasi tetapi memiliki kendala ekonomi. Beasiswa ini diberikan selama delapan semester yang meliputi biaya kuliah dan biaya hidup. Jadi selama menempuh perkuliahan, maksimal delapan semester, mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi bebas biaya kuliah, seperti uang muka masuk perguruan tinggi, SPP, uang gedung, PKL, PPL, KKN dll. Selain itu, penerima bidikmisi juga menerima living cost, kalau tidak salah besarannya Rp600.000. Untuk biaya buku bisa dialokasikan dari biaya living cost. Lantas apa saja syarat beasiswa bidikmisi? Silahkan search di google, sudah banyak yang membahas.
Jelas, mencicipi bangku kuliah bukanlah sesuatu yang mustahil. Terlebih lagi pemerintah sudah mengalokasikan 20% APBN untuk pendidikan. Jadi bukan alasan lagi kita berkeluh kesah meratapi nasib. Jalan sudah terbuka, tinggal kita tapaki. Jangan sampai jalan yang lurus dan mulus ini diserobot mereka yang lebih dari berkecukupan. Bukan rahasia kawan, tidak sedikit mereka yang termasuk anak ningrat juga mendapatkan beasiswa bidikmisi. Sebenarnya bukan salah mereka, tapi salah kita yang berasal dari keluarga ekonomi terbatas, yang tidak mau memanfaatkan jalan tersebut.
Kesimpulannya, mari bersemangat mengejar prestasi dan terus bermimpi karena bidikmisi sudah menanti.