Memelihara Mimpi Lewat Tulisan

Repost

Semarang, 03 Januari 2015


Tiga hari ini rasanya gundah gulana. Bingung, mau ikut sebuah event menulis atau tidak. Keinginan untuk menulis itu kuat. Sampai-sampai terbersit bahwa seandainya tidak ikut, maka saya pecundang. Di sisi lain, rasanya tulisan saya tidak ada bobotnya. Jauh dibandingkan dengan tulisan teman-teman yang lain. Akhirnya bimbang.


Sebenarnya hadiahnya tidak begitu besar. Mungkin cuma cukup untuk beli bakso semangkuk. Tapi bukan itu yang menjadi pertimbangan. Ini lebih pada betapa dahsyatnya sebuah tulisan. Ini lebih pada efek yang dihasilkannya. Ini lebih pada bagaimana kita mempengaruhi publik lewat tulisan kita. Ini lebih pada bagaimana kita mencurahkan ide dan gagasan kita.


Kata pepatah, tulisan itu menunjukkan sebuah bangsa. Maksudnya, dari tulisan itu kita bisa menilai jalan pikiran penulisnya. Dari tulisan itu kita mengetahui seberapa cerdas orang tersebut. Dari tulisan itu kita mengetahui keperibadiannya. Luar biasa bukan.


Dari hal tersebut saya mulai berpikir, nampaknya mimpi-mimpi saya akan tetap hidup lewat sebuah tulisan. Mimpi-mimpi itu akan terus terpelihara. Tulisan itu adalah bekal, bekal menapaki tangga untuk meraih mimpi-mimpi. Dan tulisan itu adalah jalan lurus menggapai mimpi-mimpi itu.


Sebenarnya ini luar biasa lebay. Tapi benar, jika kita sudah menenggelamkan diri untuk membuat karya tulis, kita akan paham dan ini tidak lebay. Coba tengok para Bapak Pendiri Bangsa kita, selain pembaca, mereka juga penulis. Coba kau tengok juga teman-teman yang studi di luar negeri, mereka pasti membuat tulisan. Para filsuf juga seperti itu, mereka bisa dikenang, mereka selalu menjadi rujukan, karena mereka menulis. Sangat luar biasa bukan.


Dengan menyadari hal tersebut, saya bertekad untuk terus menulis, walau sering kali alay isinya. Tapi tidak apalah, semua butuh proses. Kesempurnaan itu diawali dari hal-hal alay. Kesempurnaan itu diawali dari hal-hal tidak bermutu. Dari hal alay dan hal tidak bermutu tersebut, lantas kita transformasikan sedikit demi sedikit menjadi hal yang berbotot. Teruuus begitu, sampai akhirnya menjadi sempurna.


Hehe #D