Mencari Bekal di Bhinneka Camp 3
Repost
Semarang, 22 November 2014
Tentu tidak ada seorang pun yang ingin hidup dalam suasana penuh prasangka. Hidup damai dengan saling percaya satu sama lain menjadi dambaan setiap orang di masyarakat. Lantas, bagaimana jadinya jika hal tersebut terjadi dalam diri kita? Tentu, ini akan saling mengganggu kehidupan sosial kita.
Setidaknya itulah yang saya rasakan selama saya tinggal di Lampung. Di kanan kiri penuh prasangka. Depan belakang begitupula. Hampir tidak ada kehidupan tanpa prasangka. Jikapun ada, itu sifatnya sementara. Prasangka terhadap kelompok ini tidak saja ada di dalam kepala, tapi sudah merasuk ke aliran darah. Tidak heran, jika ada seseorang yang menyulut prasangka tersebut, sudah tentu prasangka tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh.
Prasangka yang saya maksud di sini adalah kecurigaan terhadap kelompok masyarakat lain. Dan berdasarkan pengamatan saya, beberapa konflik yang terjadi di Lampung disebabkan oleh hal tersebut. Perlu diketahui, beberapa konflik yang terjadi di Lampung melibatkan dua kelompok masyarakat (masyarakat Lampung asli dan masyarakat pendatang [transmigrasi dari Jawa dan Bali]).
Konflik Balinuraga, misalnya, yang awalnya merupakan perselisihan kecil beberapa orang menjadi meluas karena perselisihan kecil tersebut melibatkan kelompok masyarakat yang berbeda (masyarakat Lampung asli dan masyarakat pendatang). Saya kira hal sama terjadi pada konflik-konflik yang terjadi sebelumnya.
Konflik seperti inilah yang saya sangat khawatirkan. Hal kecil akan menjadi besar jika sudah dikaitkan dengan kesukuan. Apalagi prasangka (kecurigaan) antar kedua kelompok masyarakat sangat tebal. Jika terjadi sesuatu pada salah satu kelompok masyarakat, pencurian misalnya, maka kelompok masyarakat satunya yang akan dicurigai. Belum lagi adanya sekat dalam kehidupan sehari-hari, di mana masing-masing kelompok masyarakat lebih memilih bermukim dan beraktivitas dengan sesama suku dibanding berbaur dengan kelompok masyarakat lainnya. Hal inilah yang menjadi faktor utama tidak selesainnya konflik di masyarakat Lampung. Walaupun di atas hitam dan putih kedua masyarakat berdamai, tapi di seluruh aliran darah tetap memendam rasa ketidaksukaan. Artinya, potensi konflik di Lampung masih terbuka lebar. Yang saya sayangkan, selama ini tidak ada keseriusan dari pemuka adat, pemerintah daerah maupun pihak keamanan untuk menyentuh akar permasalahan. Yang mereka lakukan hanya sebatas melakukan mediasi saat konflik terjadi. Ironis!
Jika menelaah hal tersebut, kita semua akan paham bahwa keberagaman (multikultural) menjadi sebuah khazanah dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tapi di sisi lain keberagaman menjadi faktor perpecahan antar kelompok masyarakat. Sebenarnya ada langkah sederhana untuk meminimalisir benturan tersebut, yakni dengan membuka diri dan menghargai perbedaan orang lain. Tentu hal tersebut perlu dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat. Saya yakin, jika hal tersebut kita lakukan, Indonesia bebas dari kecemburuan/kecurigaan latar belakang. Untuk itu, untuk terus membina perdamaian di masyarakat Indonesia, saya berharap mendapat bekal dari Bhinneka Camp 3 yang diselenggarakan Encompass Indonesia di Malang pada tanggal 3-7 Desember 2014. Salam Damai!