Menggelikan! Bagian 1

Repost

Semarang, 24 September 2015


Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa teman berdiskusi mengenai perkembangan beberapa daerah, salah satunya Lampung. Kami juga berdiskusi mengenai calon pemimpin daerah yang pantas memimpin daerahnya, sekaligus bertukar pikiran mengenai pola pengembangan daerah. Walaupun pada akhirnya omongannya ngalor ngidul, tidak jelas. Haha biasa, kumpulan orang-orang yang sok intelek, padahal koyo telek.


Ketika itu, kami bergantian menceritakan mengenai permasalahan dan perubahan yang ada di daerah masing-masing. Satu per satu permasalahan diutarakan. Setiap ada permasalahan yang diutarakan, kami berusaha mencari solusi pemecahannya. Ada beberapa solusi yang mujarab. Tapi tidak sedikit solusi yang ngawur. Tapi setidaknya, dari apa yang diutrakan teman-teman dalam diskusi, terlihat ada perubahan di daerah masing-masing, walaupun masih banyak yang harus dibenahi. Tapi setidaknya di daerah mereka berhembus angin perubahan.


Lampung sendiri memiliki banyak tugas yang wajib dan harus segera di selesaikan. Mengingat, dari saya mulai bernalar sampai hari ini, saya belum merasakan ada perubahan yang signifikan. Saya mencatat ada beberapa permasalan krusial yang menjadi tugas pemimpin dan warga Lampung, seperti infrastruktur, kehidupan bermasyarakat, kejahatan, kesenjangan sosial, pendidikan, tata kota, transportasi, dan masih banyak lagi.


Bidang infrastruktur, tampaknya pemimpin Lampung, entah gubernur, bupati, wali kota, camat, sampai pada tingkat terendah harus benar-benar berkomitmen membangun infrastruktur, terutama jalan. Komitmen yang sungguh-sungguh disertai realisasi wajib dimiliki setiap pemimpin Lampung. Bayangkan, perjalanan yang harus saya tempuh dari Desa Payungrejo Kecamatan Pubian ke Pringsewu, yang berjarak sekitar 30 km, harus saya tempuh selama 2 jam, yang seharusnya bisa ditempuh selama 1 jam jika infrastruktur jalan dalam kondisi baik.


Jarak tempuh 30 km, dari Payungrejo ke Pringsewu, harus saya lalui dengan kondisi jalan berbatu dan berlubang sepanjang jalan. Belum lagi saya harus menyeberangin sungai dengan rakit. Proyek perbaikan jalan memang ada, namun terkesan hanya tambal sulam tanpa meningkatkan kualitas jalan. Jika jalan yang telah diperbaiki rusak, maka masyarakat harus menunggu 3-10 tahun untuk bisa merasakan jalanan kembali diperbaiki.


Bidang kehidupan bermasyarakat, terutama mengenai penanganan konflik antaretnis, kondisinya juga sama, mirip seperti perbaikan jalan, terkesan tambal sulam. Padahal, Lampung merupakan salah satu daerah rawan konflik antaretnis (etnis asli dan etnis pendatang). Tidak sekali duakali Lampung masuk dalam pemberitaan nasional karena konflik antarmasyarakat. Namun tampaknya, apa yang dilakukan pemimpin Lampung untuk menyelesaikan konflik tersebut hanya seremonial belaka.


Pencegahan konflik antaretnis di Lampung merupakan suatu keharusan, yang harus dilakukan oleh segenap masyarakat Lampung, dan membutuhkan komitmen pemimpin Lampung untuk mencapainya. Bayangkan, duri-duri kebencian selalu tumbuh setiap harinya jika menyangkut etnis masing-masing. Bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan anak-anak, semua paham siapa musuh mereka di Lampung. Bagi etnis Lampung asli, musuh mereka adalah etnis pendatang. Begitupula bagi etnis pendatang, musuh mereka tidak lain adalah etnis Lampung asli. Itu yang setidaknya saya rasakan.


Pemimpin Lampung kemana? Entahlah! Mereka hanya akan muncul jika kondisi sudah benar-benar keruh. Jika kondisi hasil masih sedikit keruh, mungkin mereka sedang duduk-duduk minum kopi di kantor mereka. Kalaupun mereka muncul pada kondisi yang sudang sangat keruh (terjadi konflik), mereka datang hanya dengan solusi ala kadarnya, yang mujarab hanya untuk sesaat. Padahal, keruhnya Lampung sudah sangat sering terjadi. Namun mereka tidak pernah belajar untuk menjernihkan Lampung dengan merawat hulu yang sakit.