Menggelikan! Bagian 2

Repost

Semarang, 24 September 2015


.... mereka tidak pernah belajar untuk menjernihkan Lampung dengan merawat hulu yang sakit.


Bidang kejahatan (kriminal), terutama curanmor dan begal, lagi-lagi pemimpin Lampung dituntut untuk serius mengurai tindak kejahatan tersebut. Dari apa yang saya amati, tidak nampak perhatian dan upaya serius para pemimpin Lampung. Pemimpin Lampung yang acuh tak acuh inilah yang seringkali membuat saya, keluarga saya, warga kampung saya, dan sebagian besar masyarakat Lampung selalu was-was jikalau kami menjadi korban pencurian ataupun korban begal. Tak hayal, jika ada pelaku curanmor atau begal tertangkap, kondisinya tidak lebih dari tulang belulang karena dibakar masa.


Permasalahan yang juga perlu di perbaiki adalah kesenjangan sosial. Kondisi ekonomi yang berbeda-beda di tiap kampung seringkali menjadi pemicu konflik antaretnis di Lampung. Ekonomi etnis pendatang yang dianggap lebih maju dibanding etnis Lampung asli menjadi salah satu bumbu keruhnya hubungan antaretnis di Lampung. Yang juga tidak kalah memprihatinkan, majunya kampung saya dan kampung-kampung lainnya, bukan karena adanya bantuan atau program dari pemimpin Lampung, tapi dari hasil banting tulang masyarakat kampung.


Di bidang pendidikan, saya kira Lampung bagian pelosok masih jauh dari maju. Pendidikan yang selama ini diberikan kepada anak-anak usia sekolah hanya sedikit memberi kemajuan. Yang ada, karena berbagai faktor termasuk kurangnya majunya pendidikan, menyebabkan anak-anak usia sekolah hamil diluar nikah dan menikah di usia dini. Dari saya lulus SMP sampai sekarang, di kampung saya sudah hampir tidak terhitung berapa anak usia sekolah yang hamil diluar nikah.


Fasilitas dan kemampuan guru perlu dibenahi. Bayangkan, saat saya SMP sampai hari ini, SMP saya tidak memiliki perpustakaan. Kalaupun ada perpustakaan, bukunya yang tidak ada. Laboratoium IPA dan laboratorium bahasa pun masih menjadi fatamorgana, apalagi laboratorium komputer. Ada memang laboratorium komputer, tapi semua komputernya hasil sewa. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan guru. Tidak sedikit yang menjadi guru adalah mereka-mereka yang berpendidikan dibawah sarjana. Ada memang yang sarjana, namun lulusan universitas terbuka. Saya bukan meremehkan mereka, namun kenyataannya kemampuan mengajar dari bapak dan ibu guru masih kurang, dan masih perlu dikembangkan. Masih banyak lagi permasalahan pendidikan yang perlu dibenahi. Dan apa yang saya utarakan adalah cermin pelosok Lampung lainnya.


Permasalahan yang harus dibenahi pemimpin Lampung tidak berhenti disini. Bidang transportasi adalah bidang yang juga harus benar-benar dibenahi. Sedikit cerita, sekitar sembilan tahun yang lalu, untuk pertama kalinya saya menyeberang dari Sumatera ke Jawa dan dari Jawa ke Sumatera lewat jalur laut. Waktu itu saya menggunakan travel (agen travel resmi). Jangan dibayangkan saya mendapatkan pelayanan yang memuaskan, namun saya dimasukkan kedalam mobil dengan sebelas orang lainnya (mobil kapasitas delapan orang). Itu terjadi sembilan tahun yang lalu, lantas seperti apa kondisinya sekarang? Sama saja! Agen travel yang seperti ini tidak hanya satu, sebagian besar agen sama, memperlakukan konsumennya seperti kambing dengan dimasukkan ke dalam mobil berkapasitas delapan orang. Dengan demikian, tentu permasalahan transportasi ini perlu dibenahi oleh pemimpin Lampung.


Itulah beberapa permasalahan yang saya utarakan saat diskusi dengan beberapa teman. Mendengar apa yang saya kemukakan, ada seorang teman yang berujar seperti ini, "Lampung menggelikan!".


Membenahi Lampung memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena apa yang saya kemukakan adalah beberapa permasalahan kecil yang ada di Lampung. Namun, sekecil apapun permasalahan jika tidak ada komitmen dan upaya yang serius maka tidak akan terselesaikan. Untuk itu, kepada seluruh pemimpin Lampung, mulailah belajar dan berusaha membenahi Lampung. Jangan kau hanya duduk-duduk santai di kantor sambil minum teh. Rakyatmu sudah menunggu. :D