Semua Ada Bagiannya

Repost

Semarang, 13 Maret 2015


Hari ini saya kembali merenung, walaupun sebenarnya hari ini hari yang membahagiakan. Terutama karena tulisan saya menjadi salah satu dari dua puluh naskah yang diterbitkan secara indi oleh Komunitas Jendela, yang terangkum dalam antalogi kedua “Kenangan Masa Kecil”. Ada satu hal lagi yang juga membuat saya senang, karena saya masuk 25 Top Social Initiative Project. Syukur alhamdulillah, ini hanya beberapa nikmat yang diberikan Allah kepada saya.


Tapi, di sisi yang lain, apa yang saya capai bukanlah sesuatu yang besar. Di luar sana tidak sedikit mahasiswa berprestasi. Prestasinya jauh luar biasa. Bisa dibilang apa yang saya capai hanyalah kepingan kecil prestasi. Artinya, saya masih jauh dari mereka. Ini yang membuat saya sedih.


Jika dipikir-pikir, ini buah dari ketiadaan a role model. Akibat dari ketidakadaannya panutan yang dijadikan contoh. Atau lebih tepatnya, dalam kasus saya, saya buta mana orang panutan yang benar dan mana panutan yang salah. Saya terlalu percaya diri menjajaki setiap tikungan yang ada di depan saya. Akibatnya, saya pun tersesat sana sini.


Bisa juga karena memang dari awal saya tidak punya tujuan yang jelas mau kemana saya akan pergi. Pada akhirnya, setiap ada tikungan yang menarik pasti saya singgahi, dengan alasan mencari informasi jalan mana yang terbaik, yang harus dilalui, dalam hal ini disebut “passion”.


Jadi jelas, tujuan dan panutan itu penting sebagai peta dan pemandu dalam meraih mimpi kita.


Kalau sudah seperti ini, lagi-lagi saya hanya bisa menghela nafas, “huuffftt”.


Tapi saya memperoleh nasihat luar biasa dari seorang teman. Teman tersebut berkata, “Orang yang kalah itu adalah orang yang selalu meratapi kekalahan. Dan pemenang itu adalah mereka yang menjadikan kekalahan sebagai bahan evaluasi, dan beranjak-berdiri untuk melakukan perubahan lainnya”.


Bisa dimengerti bahwa memang tidak ada manfaatnya berlama-lama merenungi “kenapa saya gagal”, “kenapa dia lebih hebat”, “kenapa prestasinya lebih wow dari saya”. Jika sudah seperti ini, alangkah lebih baik jika kita menjadikan kekalahan tersebut sebagai bahan pembelajaran. Bisa dibilang juga bahwa tidak semua hal (prestasi) bisa menjadi milik kita. Ada kalanya prestasi tersebut dibagi-bagi, bagi mereka yang punya kemauan kuat. Toh,pasti ada bagian prestasi untuk kita sendiri. Jadi, mari bangkit dan ambil bagian dalam proses perubahan.