Tak Ubahnya Sebutir Debu di Padang Pasir

Repost

Semarang, 02 Januari 2015


Bagi sebagian orang, akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi atas apa yang dikerjakan. Terlebih lagi bagi orang-orang yang selalu menekankan produktivitas. Bagi mereka, evaluasi adalah kegiatan wajib untuk membandingkan resolusi yang telah disusun dengan apa yang telah dicapai. Pembandingan ini perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa suksesnya kita selama tahun itu. Evaluasi juga menunjukkan hal mana saja yang perlu diperbaiki, yang perlu ditingkatkan dan yang perlu dipertahankan. Syukur-syukur, hasil evaluasi memperlihatkan apa yang telah tercapai lebih dari apa yang direncanakan. Artinya, kita termasuk orang yang produktif.


Sebagai orang yang sok produktif, hal serupa juga saya lakukan. Saya membandingkan apa yang saya rencanakan dengan apa yang saya capai. Hasilnya, luar biasa. Jauh dari apa yang saya rencanakan. Maksudnya, sebagian besar yang saya rencanakan tidak tercapai hehe. Tapi memang ada beberapa hal yang tetap membuat saya bangga. Dan itu tidak masuk dalam hal yang saya rencanakan. Alhamdulillah.


Tercatat, di tahun 2014 saya telah mengikuti beberapa acara nasional, baik konferensi maupun forum. Beberapa tulisan saya juga dibukukan, walaupun hanya berbentuk esai. Saya juga berhasil menempatkan diri di sepuluh besar lomba esai, walaupun saya di posisi ke sepuluh. Saya bilang ini pencapaian yang luar biasa mengingat tahun 2014 adalah tahun pengabdian. Tahun di mana waktu saya tersita karena KKN dan magang. Namun, dari semua itu, masih banyak hal yang belum mampu saya capai. Ikut konferensi internasional, juara tingkat internasional dan beberapa rencana lainnya belum saya capai. Tapi tetap saya bangga.


Ada rasa bangga dengan apa yang saya capai. Namun, jika saya bandingkan apa yang saya capai dengan apa yang dicapai oleh teman-teman, sungguh tak ubahnya sebutir debu di padang pasir. Rasanya yang saya capai itu bukan apa-apa. Tidak ada harganya. Bahkan, saya pikir, apa yang saya capai tidak lebih dari ujung kuku. Sunggu bukan apa-apa.


Tengok teman-teman yang bolak-balik Indonesia-Malaysia, Indonesia-India, Indonesia-Jerman, Indonesia-Amerika, dan banyak lagi. Coba tengok teman-teman yang juara satu karya tulis tingkat nasional, juara satu karya tulis tingkat internasiona. Tengok juga teman-teman yang menjadi duta, duta bahasa, duta Indonesia di forum internasional, duta daerah, dan duta-duta lainnya. Luar biasa. Benar adanya bahwa apa yang saya capai bukan lah sesuatu yang bisa dibanggakan.


Dari hasil evaluasi tersebut, setidaknya memberikan gambaran produktivitas diri saya. Jika dibandingkan, saya bukan lah siapa-siapa. Namun jangan patah semangat. Ini tahun yang baru, tahun 2015. Waktunya bangkit kembali. Waktunya menyusun resolusi. Waktunya mengejar mimpi-mimpi. Bismillah, semoga tahun ini saya menjadi manusia yang produktif. Apa yang saya impikan dapat saya capai. Bismillah, tahun ini saya akan berusaha lebih keras lagi. Ya Allah, Tuhan kami, tunjukkan jalanmu untuk memudahkan hambamu ini menapaki kehidupan. Amiin.