Untukmu: Bapak dan Ibu Dosen

Repost

Semarang, 3 September 2015

Dimuat di suara-konservasi.co


Assalamualaikum Bapak dan Ibu Dosen

Salam Sejahtera untuk Kita Semua

Saya doakan Bapak dan Ibu sekalian dalam kondisi yang sehat tanpa kekurangan suatu apapun.


Pak, Ibu, perkenalkan saya Rahmat Syarifulloh, seorang maba (mahasiwa abadi ‘mahasiswa semester sembilan’). Pak, Bu, kadang-kadang saya berpikir, bahwa dosen itu adalah manusia-manusia yang berpendidikan tapi kurang humanis. Sebagai contohnya, ketika saya menyerahkan surat tugas untuk menguji komprehensif baru-baru ini, yang seharusnya ujian komprehensif bisa diambil di semester tujuh atau semester delapan, saya melihat raut muka yang sungguh ngece (menyepelekan kemampuan saya). Iya, memang saya bukan mahasiswa dengan IPK 4,01. Saya hanyalah mahasiswa biasa, yang saat ini duduk di semester sembilan. Tapi setidaknya berilah senyum penyemangat supaya saya lekas menyelesaikan tugas akhir. Berilah saya sedikit energi positif melalui senyum Bapak dan Ibu, atau setidaknya tepukan kecil di pundak seraya berkata, “Semangat, Mas. Mari berjuang bersama-sama”. Nampaknya, senyuman dan tepukan mesra tersebut jauh dari apa yang saya harapkan.


Saya sering merasa, mungkin juga dirasakan teman-teman lainnya yang pernah duduk lebih dari delapan semester, bahwa Bapak dan Ibu dosen sering kali mengecilkan kami, walaupun hanya sebatas lewat pikiran ataupun senyum kecut. Walaupun saya memang bukan mahasiswa jenius dengan IPK 4,01, saya hanyalah mahasiswa abadi yang berusaha menuntaskan studi saya. Tapi layakkah kami mendapatkan semua itu, anggapan bahwa kami adalah mahasiswa yang bodoh. Atau malahan, mungkin, Bapak dan Ibu dosen menganggap kami sebagai warga kampus yang sangat menjijikkan secara akademis. Untuk yang satu ini saya kurang tahu.


Bapak dan Ibu dosen yang sangat saya cintai. Mohon dihilangkan persepsi-persepsi negatif tersebut. Tidak semua mahasiswa yang duduk lebih dari delapan semester adalah mereka-mereka yang kurang dalam hal kepandaian dan keinginan (semangat untuk cepat lulus). Walaupun saya tidak menampik bahwa tidak sedikit mereka yang menjadi mahasiswa abadi adalah orang-orang pemalas dan kurang secara akademik. Alangkah indahnya jika Bapak dan Ibu dosen mengonfirmasi terlebih dahulu perihal kenapa mahasiswa tersebut telat mengerjakan tugas akhir. Kemungkinan besar alasannya ada dua, malas dan sedang berjuang. Bagi mereka yang malas, tentu senyum kecut layak diberikan. Tapi bagi mereka yang sedang berjuang mengembangkan diri, di luar prodi yang diambil, pemberian senyum kecut dan pelabelan mahasiswa oon sungguh disayangkan.


Beberapa waktu yang lalu saya membaca tulisan dari Bapak Rhenald Kasali, kalau tidak salah dimuat di kompas.com. Dalam sebuah paragraf, Pak Rhenald Kasali menuturkan bahwa saat ini bukanlah zaman yang hanya mengedepankan gelar akademik. Tapi di zaman ini, banyak orang berbondong-bondong mencari keahlian diri. Gelar akademik tidak lagi menjadi satu-satunya incaran, namun mereka lebih menekankan pada kemampuan progresif yang diperolehnya melalui sebuah proses.


Saya kira apa yang dikemukakan Pak Rhenald Kasali bisa menjelaskan apa yang sedang mahasiswa abadi cari, kecuali mereka yang pemalas dan mereka yang banyak alasan. Mahasiswa-mahasiswa pejuang tersebut sedang berproses. Mereka adalah orang-orang yang sedang mencari jati diri, menggali diri dan mengembangkan diri. Suatu saat, ketika apa yang dicarinya sudah didapat, barang tentu mereka adalah orang-orang pembawa perubahan. Intinya, berproses itu membutuhkan waktu. Jika memang dengan tujuh semester atau delapan semester mereka mendapatkan apa yang mereka cari. Tentu lulus sesegera mungkin adalah jalan terbaik. Namun, jika apa yang mereka cari belum mereka dapatkan atau sedang dalam proses pencapaian, dan kebetulan memang membutuhkan status sebagai mahasiswa, maka tolong pahami dan dukung kami.


Bapak dan Ibu dosen, saya berharap Bapak dan Ibu tidak lagi menilai kami hanya dari IPK dan cepat lambatnya kami lulus. Tapi tengoklah apa yang sedang kami kejar. Lihatlah apa yang sedang kami perjuangkan. Karena sejujurnya, kami tidak sedang bersenang-senang dengan waktu libur yang panjang, tapi saat ini kami sedang membanting tulang belajar menjadi orang-orang yang nantinya membawa dan memberi perubahan, yang diharapkan dapat bermuara bagi Nusa dan Bangsa, minimal bagi orang dan lingkungan sekitar.


Demikian surat cinta saya untuk Bapak dan Ibu dosen. Besar harapan saya, Bapak dan Ibu dosen dapat memahami dan mendukung apa yang saya dan teman-teman mahasiswa abadi sedang perjuangkan. Salam sayang, cinta dan hormat saya, Rahmat Syarifulloh (mahasiswa Akuntansi Unnes 2011).


Wassalualaikum Bapak dan Ibu dosen

Salam Sejahtera